Dinsdag 18 Junie 2013

MENJADIKAN DIRI KUBURAN AIB SAUDARA MUSLIM KITA

Seburuk-buruk orang adalah yang selalu menyibukkan dirinya dengan menyebut-nyebut keburukan orang lain,” demikian pesan tabi‘in terkemuka, Ibnu Sirin, saat mendiagnosa penyakit hati yang banyak menjangkiti sebagian manusia, di antaranya para dai. Yakni sibuk mencari-cari aib orang lain dan lupa terhadap aib sendiri. Sebagai akibat dari lemahnya tarbiyah. Maka puncak perhatian dan pekerjaannya adalah mencari-cari kesalahan orang, membongkar, dan menyerangnya. Dia lupa bahwa setiap orang memiliki aib dan kesalahan. Tidak terkecuali dirinya sendiri.



Ini termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya yang menimpa seorang mukmin dan dai, sampai-sampai ia melihat dirinya begitu sempurna sementara orang dan dai lain diliputi banyak aib dan kekurangan. Ia lupa kalau Allah menghendaki kebaikan seseorang, dia akan disibukkan dengan aib dirinya sendiri untuk segera diperbaiki. Lalu ia sibuk dengan dirinya sendiri, membersihkannya, mentarbiyahnya, menjauhkannya dari segala sifat buruk.
يُبْصر أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيْهِ وَيَنْسَى الْجَذَعَ فِي عَيْنِهِ
 “Salah seorang melihat kotoran di matanya namun melupakan kotoran di matanya sendiri.”
Peribahasa Indonesia mengatakan, “Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”
Generasi terbaik, para sahabat dan tabi’in senantiasa terhubung hati mereka dengan Allah. Mereka sibuk dengan jiwa mereka sendiri, karena ia adalah musuh utama mereka. Seluruh perhatian mereka kerahkan untuk menghadapi jiwa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Mereka sadar betul bahwa mendidik jiwa mereka sendiri adalah kewajiban utama dan sarana efektif untuk menjaga istiqamah dalam ketaatan. Mereka juga paham hakikat dan tabiat jiwa itu. Seperti kata Al-Ajiri,
إِذَا أَطْمَعْتَهَا طَمَعَتْ، وَإِذَا آيَسْتَهَا أَيْسَتْ، وَإِذَا أَقْنَعْتَهَا قَنَعَتْ، وَإِذَا أَرْخَيْتَ لَهَا طَغَتْ، وَإِذَا فَوَّضْتَ لَهَا أَسَاءَتْ، وَإِذَا حَمَّلْتَهَا عَلَى أَمْرِ اللهِ صَلُحَتْ
“Jika kau membuatnya tamak, dia menjadi tamak. Jika kau buat putus asa, dia menjadi putus asa. Dan jika kau membuatnya menerima, dia akan menerima, jika kau abaikan, ia melampaui batas, jika kau serahkan urusan kepadanya, ia jahat, dan jika kau bawa kepada perintah Allah, dia menjadi baik.”
Seorang muslim biasa mempunyai kewajiban untuk mendidik jiwanya sedemikian rupa terhadap jiwanya dan tidak menelisik aib dan keburukan orang lain, Karen hal itu akan mengganggu ruhiyahnya dan istiqamahnya di jalan Allah, apatah lagi seorang dai dan murabbi, yang waktunya dilalui dalam belantara dakwah. Menyebarkan dakwah dan mengajak orang kepada petunjuk Allah. Menemui manusia mengulurkan tangan untuk membimbing mereka agar lebih dekat mengenali Rabb mereka. Tentu mereka lebih membutuhkan kemampuan mendidik jiwa mereka sendiri hingga bisa mendidik orang lain.
Ali ra. berkata,
مَنْ نَصَبَ نَفْسَهُ لِلنَّاسِ إمَاماً فَلْيَبْدَأ بِتَهْذِيْبِ نَفْسِهِ قَبْلَ تَهْذِيْبِ غَيْرِهِ، وَلْيَكُنْ تَهْذِيْبُهُ بِسِيْرَتِهِ قَبْلَ تَهْذِيْبِهِ بِلِسَانِهِ، وَمُعَلِّمُ نَفْسِهِ وَمُهَذِّبُهَا أَحَقُّ بِالإِجْلاَلِ مِنْ مُعَلِّمِ النَّاسِ وَمُهَذِّبُهُمْ
“Siapa menobatkan dirinya sebagi imam (pemimpin) bagi orang lain hendaknya ia memulai mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain. Dan hendaknya ia mendidiknya dengan perbuatannya sebelum mendidik dengan lisannya. Seorang yang mengajari dirinya serta mendidiknya lebih patut dihormati ketimbang orang yang mengajarkan dan mendidik orang lain.”
Atsar ini bisa disimplikasikan dengan jargon tarbiyah,
اَصْلِحْ نَفْسَكَ وَادْعُ غَيْرَكَ
“Perbaiki dirimu dan berdakwahlah kepada orang lain.”
Betapa banyak orang yang menghabiskan waktu dan perhatiannya bukannya untuk mendidik jiwanya, namun untuk hal-hal mubah, bahkan syubuhat, atau na’uzu billah hal-hal haram. Seperti menyibukkan diri mengoreksi kesalahan saudaranya. Yang hal ini merupakan bunuh diri dalam kamus generasi terbaik. Allah berfirman,
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” (An-Nisa’: 29)
Al-Fudhail bin ‘Iyyadh mengomentari ayat ini, “Janganlah kalian lalai terhadap diri kalian, sebab barangsiapa lalai terhadap dirinya berarti ia telah membunuh dirinya.”
Alangkah indahnya jika para dai memahami nilai-nilai tarbawi ini.
Imam Abu Hatim bin Hibban berkata, “Adalah wajib bagi orang berakal untuk senantiasa menjaga keselamatan dirinya dengan cara tidak mencari-cari kesalahan orang lain dan sibuk memperbaiki kesalahan dirinya sendiri. Sebab orang yang sibuk dengan kesalahannya ketimbang kesalahan orang lain badannya santai dan hatinya tidak capek. Setiap kali ia melihat kesalahannya sendiri maka menjadi ringanlah kesalahan yang dilihatnya pada saudaranya. Sedangkan orang yang sibuk dengan kesalahan orang lain ketimbang kesalahan dirinya sendiri buta hatinya dan lelah badannya lalu sulit baginya untuk meninggalkan kesalahannya dirinya.”
Saudaramu adalah cerminmu
Sebagaimana jiwamu memerlukan perhatian karena kekurangannya, aibnya, kecenderungannya menjauh dari petunjuk, dan penentangannya kepada amal ketaatan. Jiwa orang lain pun demikian halnya. Semua berada dalam proses pergulatan dengan jiwanya masing. Kalah dan menang adalah konsekuensi dari pergulatan itu. Adakalanya fitrah mendominasi dan adakalanya nafsu yang mengendalikan. Di saat itu, maka sifat-sifat buruk bersemi dengan suburnya bagai jamur di musim hujan.
Adakah yang selamat dan bersih dari kekurangan dan kesalahan? Hanya Rasulullah saw yang dijaga (ma’shum) dari segala kesalahan. Maka jika kau melihat ada kesalahan pada diri saudaramu, sesungguhnya kesalahan itu juga ada pada dirimu. Jika ada aib, cacat, kemalasan, bahkan kemaksiatan, sesungguhnya –betapapun- kadarnya, itu semua ada pada dirimu. Dari Anas bin Malik Rasulullah saw.
اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin (yang lain).” (Bazzar dan Thabrani)
Jika Anda bercermin, lalu di balik cermin itu Anda melihat ada kotoran atau apapun yang Anda tidak suka karena akan mengganggu penampilan Anda, maka dengan berbagai upaya Anda lakukan untuk menghilangkannya atau menutupinya, membersihkannya atau menghiasinya agar nampak indah Anda pandang sendiri dan indah pula dipandang orang lain. Dan Anda akan malu tersipu jika ternyata ada kotoran dan aib yang belum dibersihkan lalu dilihat orang lain.
Dan Anda adalah cermin bagi saudaramu. Saudaramu adalah cermin bagi Anda. Kotoran dan aib yang Anda lihat pada diri saudaramu itu sesungguhnya merupakan pantulan dari kotoran dan aib yang ada pada dirimu. Seperti halnya Anda tidak suka apabila aibmu dilihat orang, seperti itu pula saudaramu. Maka menyembunyikan aib saudara –kalau tidak mampu membersihkannya- adalah keniscayaan dalam pergaulan ukhuwah. Karena pada konteks ini, taka da bedanya antara Anda dan saudara yang lain. Seperti tak ada bedanya antara Anda yang sedang Anda lihat di balik cermin itu, dan setiap mukmin mencintai untuk saudaranya seperti dia mencintai untuk dirinya sendiri.
Keutamaan menutupi aib saudara
Di antara kemurahan Allah adalah Dia senang kalau tidak ada hamba-Nya yang melakukan dosa dan kesalahan. Kalau seorang hamba tidak kuasa kecuali melakukannya, Allah senang kalau hamba itu menutupi aurat dan aibnya sendiri lalu bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya.
Allah bersifat Sattir.
وعَنْ عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
Dari Atha’ dari Ya’la bahwa Rasulullah saw. melihat seseorang mandi di tempat terbuka. Lalu beliau naik mimbar kemudian memuji Allah dan bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla itu Mahasantun, Maha Pemalu, dan Maha Menutupi cinta kepada rasa malu dan menutupi. Maka jika salah seorang kalian mandi hendaklah bersembunyi.” (Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan Baihaqi).
Allah Menutupi Aibnya
Menutupi aib dan aurat orang beriman adalah kewajiban. Barangsiapa menutupi aurat dan aib saudaranya dengan ikhlas dan cinta karena Allah, Allah akan menutupi aib dan kesalahannya di dunia dan akhirat. Itu adalah bagian pertama dari ampunan dan maaf Allah kepada hamba. Sabda Rasulullah saw.,
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَةُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat.” (Abdurrazzaq dan Ahmad dari hadits Abu Hurairah).
Menutup aurat dan aib artinya semua aib baik yang bersifat fisik maupun non-fisik. Misalnya seseorang memiliki keburukan dan cacat di badannya maka tidak ditunjukkan dan diceritakan kepada orang lain. Atau seseorang melakukan kesalahan lalu disimpan kesalahan itu dan tidak dibeberkan kepada orang lain. Bahkan ketika seseorang sudah meninggal sekalipun, perlu disembunyikan aurat dan cacatnya. Seperti sabda Rasulullah saw.,
مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أرْبَعِينَ مَرَّةً
“Barang siapa memandikan mayit lalu ia sembunyikan (aibnya) Allah akan mengampuninya selama empat puluh kali.” (Baihaqi dan Thabrani)
Akibat membongkar dan menyebarkan air orang-orang beriman.
Sebaliknya, membongkar dan memamerkan aib orang lain adalah dosa. Khususnya jika hal itu dilakukan orang karena kealpaannya dan bukan termasuk orang yang suka memamerkan kemaksiatan. Terlebih lagi jika ia dikenal sebagai orang yang taat beribadah dan baik agamanya juga tidak dikenal sebagai ahli maksiat. Maka mencacinya adalah mencaci agama. Membeberkan kesalahannya adalah menodai agama. Lalu Allah akan menghukum orang yang suka memamerkan bahkan mencari-cari kesalahan orang lain. Baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, kesalahan dan aibnya akan dipertujukkan Allah kepada manusia. Seorang salafus-shalih berkata,
“Aku mendapati suatu kaum yang tidak punya aib sama sekali. Lalu mereka menyebut-nyebut aib orang lain maka orang lain itupun menyebut-nyebut aib dan kesalahan mereka. Aku juga mendapati kaum lain yang memiliki banyak aib dan kesalahan, lalu mereka suka menutupi aib orang-orang lain maka aib mereka pun dilupakan orang.”
Sebab tidak ada orang di dunia ini yang tanpa aib dan kesalahan. Saat seseorang mencari-cari bahkan membongkar kesalahan orang lain, orang akan mencari dan membongkar kesalahannya. Dan tentu kondisi ini menjadi preseden buruk bagi sebuah jamaah atau masyarakat. Saat masing-masing anggotanya berusaha membongkar kesalahan dan aib orang lain, maka masing-masing akan membongkar aib dan kesalahan yang lain. Maka tidak ada lagi rahasia. Masing-masing dari anggota saling menghujat dan menyalahkan.
Sebagai konsekuensinya berbagai perilaku dan sikap negative pun bermunculan dalam jamaah dan masyarakat; suuzhan, tajassus, ghibah, najwa, bahkan adu domba sampai kepada fitnah demi memuaskan hati dengan melihat lawannya tersakiti. Maka rusaklah sendi-sendi jamaah dan masyarakat karena perilaku negatif ini. Seiring dengan itu hilang pula kepercayaan satu sama lain. Satu sama lain saling mencurigai dan saling menzhalimi.
Kondisi semacam ini yang diwanti-wanti oleh Allah dan pelakunya diancam dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebar keburukan di antara orang-orang yang beriman bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah Mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)
Seharusnya seseorang menutupi aurat dan aib saudaranya sebagaimana ia suka jika aib dan auratnya ditutupi. Orang yang suka membuka dan membicarakan aurat serta aib orang lain, tidak perlu didengar apatah lagi ditanggapi.
Seorang wanita datang menemui Ummul Mukminin, Aisyah ra., bahwa seorang laki-laki mencoba membuka auratnya saat wanita itu umrah. Aisyah pun memboikotnya dan berpaling darinya seraya berkata, “Hai wanita-wanita beriman, jika salah satu di antara kalian melakukan dosa, hendaknya tidak menyampaikannya kepada orang lain. Hendaknya meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya. Karena manusia itu hanya bisa melecehkan dan tidak merubah. Sedangkan Allah bisa merubah dan tidak melecehkan.”
Jadi, jadikan dirimu sebagai kuburan seluruh aib saudaramu. Kubur dalam-dalam semua kesalahannya agar tidak pernah muncul lagi. Ya, sedalam-dalamnya, selama-lamanya.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking