Dinsdag 21 Mei 2013

MULIA DI SISI ALLAH

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS Al Hujuraat (49): 13). 

Perbedaan jenis kelamin, suku, etnis, warna kulit, bahasa, adat, budaya dan bangsa adalah bagian dari sunnatullah dalam penciptaan manusia.  Allah swt tidak menghendaki perbedaan ini membuat umat manusia saling berpecah belah, bertikai, dan bermusuhan. Melainkan, Ia Allah swt menginginkan perbedaan itu membuat manusia saling kenal mengenal, dan tolong menolong untuk memakmurkan bumi. Berbeda tidak harus lantas berpecah, namun berbeda untuk menuju sinergi, harmonisasi dan kesempurnaan.
Tak bedanya seperti bangunan yang kesempurnaannya terbentuk dan bahan bangunan yang beragam. Ada pasir, semen, air, batu bata, kayu, paku dan lain-lain.Karenanya ayat di atas diawali dengan lafazh “Ya Ayyuhan-Naas” (Hai manusia) untuk mengingatkan manusia bahwa mereka itu sama asal usulnya. Dan satu keturunan, yaitu dan nabi Adam dan siti Hawa -‘alaihimassalam- sehingga satu sama lain tidak boleh saling membanggakan dan saling menghinakan dan menjelekkan.
Asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dan lbnu Abi Mulaikah, ía bercerita: Ketika Yaumu’l Fath (hari pembebasan kota Mekah), Bilal naik ke atas Ka’bah, lalu mengumandangkan adzan. Sebagian orang sinis sambil berkomentar: Apakah layak budak hitam ini mengumandangkan adzan di atas Ka’bah? Sebagian lagi mengatakan: Jika Allah memurkainya, pasti Allah swt akan mengubahnya, atau jika Allah menghendaki sesuatu maka pasti Ia akan merubahnya. Lalu Allah menurunkan ayat di atas, maka Nabi saw melarang mereka untuk membangga-banggakan nasab (keturunan), kekayaan dan menghina orang-orang fakir (At TafsirAl Munir, DR Wahbah Az Zuhaili XVI/250).
Yang paling bertakwa
Begitu banyak definisi manusia terbaik dan termulia dalam perspektif masyarakat. Sebagian melihat, bahwa orang yang paling kaya lah yang terbaik. Sebagian lagi melihat tampilan fisik; kegantengan dan kecantikan menjadi ukuran kebaikan seseorang. Yang lain membanggakan dirinya karena berasal dan keturunan tertentu, sehingga menganggap dialah manusia paling mulia. Ada pula yang menganggap din dan komunitasnya yang terbaik karena memiliki kewarganegaraan atau kebangsaan tertentu. Dan masih banyak lagi atribut, simbol dan hal lain yang sering membuat manusia terpukau dan tertipu sehingga mengganggap dirinya the best, super atau terbaik,
Semua itu dalam neraca dan pandangan Allah swt sama sekali tidak berarti dan tidak diperhitungkan. Yang bernilai dan memiliki bobot di mata Allah hanyalah takwa. Takwa inilah neraca yang dipaka untuk mengukur kebaikan dan keunggulan manusia. Ayat di atas telah menegaskan hal ini. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Jadi, manusia yang paling mulia dan the best serta paling tinggi derajatnya di sisi Allah di dunia dan akhirat adalah Al Atqaa, yang paling bertakwa, yang paling shaleh dan bermanfaat untuk din dan masyarakatnya. Kalau harus ada yang bisa dibanggakan dan dikejar, maka ia adalah takwa yang bermakna komitmen terhadap apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
Dalam kajian Sayyid Qutb rahimahullah, bahwa hendaknya semua orang berlomba untuk berada di bawah bendera takwa dalam naungan Allah. Bendera takwa inilah yang diangkat dan dikibarkan oleh Islam untuk menyelamatkan manusia dan fanatisme terhadap jenis kelamin, bangsa, kabilah/ suku dan keluarga/keturunan. Semua itu bersumber dan jahiliyah dan akan kembali kepada jahiliyah jika tetap menjadi standar. Hal-hal jahiliyah ini terkadang dihias dengan beraneka macam pakaian, dikemas dengan beragam kemasan dan diberi nama/label dengan bermacam-macam nama. Yang jelas, semua itu jahiliyah, sama sekali bukan dan Islam! (Fl ZhilaI Al Qur’an Vl/3348).
Dan Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah saw pernah ditanya, “Siapa manusia yang paling mulia?” Beliau saw menjawab, “Manusia yang paling mulia/terbaik di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”. Mereka berkata: Kami tidak bertanya tentang itu. Beliau bersabda, “Man usia yang paling mulia adalah Yusuf, karena ia Nabiyullah (nabi Allah), anak dan Nabiyullah (yaitu nabi Ya’qub), anak dan Khalilullah (kekasih Allah, yaitu nabi lbrahim)”. Mereka berkata: Bukan ini yang kami tanyakan. Lalu beliau balik bertanya, “Apa kalian bertanya kepadaku tentang barang tambang orang-orang Arab?”  mereka menjawab: Ya. Nabi saw bersabda, “Yang terbaik di antara kalian pada masa Jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam, jika mereka faqih (paham dalam urusan agama)” (HR Bukhari, hadits no. 4689)
Karena itu, jangan sampai Anda mudah terpukau dengan ketampanan, kecantikan, kekayaan, kekuasaan, kepangkatan dan gelar seseorang. Sebagaimana jangan mudah minder jika Allah belum atau tidak menganugerahkan kepada kita atribut dan pernak-pernik dunia itu. Sebab, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk (fisik) kalian dan harta (kekayaan) kalian. Melainkan Ia swt melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim, hadits no. 2564).
Yang paling baik terhadap keluarganya
Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah berbuat baik terhadap keluarganya dan tidak pernah menzhalimi mereka. Jika ia seorang suami, tentu ia menjadi suami yang shaleh, yang selalu menunaikan kewajiban-kewajiban Allah, keluarga dan semua orang yang ada dalam tanggungannya dengan ikhlas, penuh semangat dan lapang dada. Ia tak menuntut hak lebih banyak dan yang semestinya. Bahkan, Ia toleran dengan kekurangan yang ada. Ia pantang menyepelekan dan menyia-nyiakan kewajiban-kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, bahkan a tunaikan dengan sebaik-baiknya sebelum menuntut haknya. Ia akan selalu berusaha membahagiakan istrinya.
Jika ia seorang istri, maka ia akan menjadi istri yang shalehah, yang ta’at kepada Rabbnya, memperlakukan suami dengan baik, tidak menyianyiakan kewajiban dan tidak menuntut hak lebih banyak dan yang seharusnya serta selalu membahagiakan suaminya. Ia berusaha menjadi Khairu Mataa’id Dun’yaa (sebaik-baik perhiasan dunia), yang ciri-cirinya menurut Nabi saw, “Jika suami memandangnya menyenangkan, jika ia memerintahnya ta’at dan jika ia tiada (absen darinya) mampu menjaga (kehormatan dan hartanya)” (HR Abu Dawud).
Karena itulah, dalam perspektif Nabi saw manusia terbaik di jagad raya adalah manusia yang paling baik terhadap keluarganya. Nabi saw bersabda, “Khairukun khairukum li ahlihi, wa ana khairukum Ii ahli (Yang terbaik di antana kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluangaku)” (HR Tirmidzi).
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga menegaskan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlak/ budi pekertinya. Dan yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).


Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan yang hakiki, bukanlah hanya ketika seseorang mampu meraih puncak karir, popularitas, gelar tinggi dan keuntungan duniawi. Namun, kesuksesan yang hakiki adalah manakala kita mampu meraih simpati dan anak dan istri atau suami kanena pancaran sinar takwa yang membumi. Kesuksesan yang sejati adalah ketika kita berhasil mengkondisikan dan membina keluarga kita menjadi insan-insan Taqiy (yang bertakwa), bahkan menjadi pemimpin Muttaqin (orang-orang yang bertakwa).


“Ya Rabbana (Tuhan kami). Anugerahkanlah kepada kami, Para istri kami dan keturunan kami sebagai Qurrata Ayun (penyejuk hati kami), dan jadikanlah kami imam/pemimpin orang-orang yang bertakwa” 

      

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking