Saterdag 20 Julie 2013

MAJELIS DARUL AYTAM



Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
TQS. Annissa 114



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُةُ



Dalam rangka mengagungkan syiar Ramadhan Majelis Darul Aytam melaksanakan Taklim Al Qur'an, Penyantunan Anak Yatim dan Dhua'fa, Pembagian Infaq dan Mukena serta Pembagian Zakat yang Insya Allah akan di laksanakan pada hari Kamis, Tanggal 18 Ramadhan 1434 Hijri 26 Juli 2012 Miladiyah tempat Jalan Pemuda No 3, Sukmajaya Kota Depok.
Penceramah Dr.H.Mohd Jabal Alamsyah LC, Ketua Majelis Al Mawarist. 



Kehadiran, dukungan dan Donasi Bantuan dari Para Wakif sangat kami harapkan.
Bagi Wakif yang ingin berbagi kebahagian disampaikan informasi : I

Infaq santunan Rp. 50.000,- perorang Infaq mukena Rp.150.000,- permukena, Infaq makanan, Rp.50.000,- perorang dan Zakat 25.000,- perjiwa standar beras kualitas terendah. 


Untuk penyampaiaknnya silahkan disalurkan melalui account / rekening-rekening : 1260004993787 An.Chuswatun Hassanah qq Yayasan Darul Aytam.
BNI No Rek. 273401364 an Drs.Setiawan qq.Yayasan Darul Aytam.
BCA 7650412197 An. Drs.Setiawan qq. Yayasan Darul Aytam
Bagi Wakif di Malaysia sila transfer ke account 160018582289 maybank account atas nama Suzana Mohd Ali.



Demikian Undangan ini kami sampaikan, atas segala perhatian
dukungan dan bantuan Ayah, Bunda, Ikhwan dan Akhwat Fillah Yang diberikan kepada Majelis Darul Aytam diucapkan terima kasih yang Mendalam.


Semoga Allah Azza Wa Jalla membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda di dunia dan Jannah-Nya kelak di akhirat. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.


وَ لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُةُ

MENGAPA KITA HARUS LEBUH DERMAWAN DI BULAN RAMADHAN




كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (صحيح البخاري 

“Berkata Ibn Abbas ra : Bahwa Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi saat ramadhan, ketika dijumpai Jibril (as), yang mengunjungi beliau setiap malam dibulan ramadhan, dan mengajarkan beliau saw Alqur'an, maka sungguh Rasulullah saw lebih dermawan dalam berbuat baik daripada angin yang berhembus" (Shahih Bukhari)

Dan beliau lebih demawan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih pemurah dengan kebaikan daripada angin yang berhembus dengan lembut. Beliau bersabda, "Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan." (HR. al-Tirmidzi dari Anas)

Selain dikenal sebagai syahru shiyam, syahru qiyam, dan syahru Qur'an, Ramadhan juga masyhur dengan syahru muwasah (bulan bersimpati dan menolong) kepada fakir miskin dengan berbagi dan bersedekah. Dan bersedekah ini, termasuk salah satu dari amal utama di bulan yang sangat mulia ini.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan.
Sesungguhnya shadaqah di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan dan kelebihan. Dan ini haruslah menjadi motifati/pendorong seorang muslim menjadi lebih dermawan pula di bulan yang mulia. Maka pada tulisan ini kami akan tuturkan beberapa sebab yang lebih bisa mendorong kaum mukminin yang sedang berpuasa Ramadhan untuk lebih dermawan di dalamnya. Antara lain: 
1. Kemuliaan zaman (waktu) dan dilipat gandakannya amal-amal shalih di dalamnya. Dalam Sunan al-Tirmidzi, dari Anas bin Malik secara marfu', "Shadaqah yang paling utama adalah pada bulan Ramadhan."
2. Membantu shaimin, qaimin, dan dzakirin untuk menjalankan ketaatan mereka. Inilah yang menjadi sebab ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka. Dalam hadits Zaid bin Khalid, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: 

"Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi dari pahalanya sedikitpun." (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Nasai, dan dishahihkan al-Albani)
3. Bahwasanya bulan Ramadhan adalah bulan di mana Allah berderma (melimpahkan kebaikan) kepada para hamba-Nya dengan mecurahkan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari neraka, terlebih di Lailatul Qadar. Allah Ta'ala akan menyayangi para hamba-Nya yang senang mengasihi yang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
"Sesungguhnya Allah akan merahmati para hamba-Nya yang ruhama' (suka mengasihi yang lainnya)." (HR. Al-Buhkari) Maka siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal.
4. Puasa dan shadaqah, keduanya menjadi sebab yang bisa menghantarkan ke surga. Seperti yang terdapat dalam hadits Ali Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat ruangan yang dalamnya bisa dilihat dari luarnya dan luarnya bisa dilihat dari dalamnya." Lalu para sahabat bertanya: "Untuk siapa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,
"Bagi siapa yang baik tutur katanya, memberi makan, kontinyu melaksanakan shiyam, dan shalat malam karena Allah di saat manusia tertidur." (HR. Al-Tirmidzi)
Amal-amal ini terkumpul pada bulan Ramadhan, di mana seorang mukmin mengumpulkan shiyam, qiyam, shadaqah, dan berkata yang baik di dalamnya. Pada saat yang sama, orang yang puasa menahan diri dari tindakan lahwun (sia-sia) dan tercela.
Shiyam, shadaqah, dan shalat bisa menghantarkan pelakunya kepada Allah 'Azza wa Jalla. Sebagian ulama salaf berkata, "Shalat menghantarkan pelakunya kepada pertengahan jalan, puasa menghantarkannya sampai ke pintu raja, sementara shadaqah meraih tangannya untuk dimasukkannya menemui sang raja."
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa di antara kalian di pagi ini yang berpuasa?" Abu Bakar menjawab, "Saya."
Beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah mengantarkan jenazah hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya."
Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah memberi makan orang miskin hari ini?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Beliau bertanya lagi, "Siapa yang sudah mengeluarkan shadaqah?" Abu Bakar menjawab, "Saya."
Lalu beliau bertanya lagi, "Siapa di antara kalian yang sudah menjenguk orang sakit?" Abu Bakar menjawab, "Saya." Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidaklah amal-amal tersebut terkumpul pada diri seseorang kecuali ia akan masuk surga."
...Maka siapa yang berderma kepada hamba Allah, maka Allah akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia. Karena balasan itu sesuai dengan jenis amal...
5. Berkumpulnya puasa dan shadaqah lebih kuat untuk dihapuskannya kesalahan, dipelihara dari jahannam, dan dijauhkan darinya. Lebih lagi, kalau digabung dengan qiyamullail. Terdapat sebuah hadits, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Puasa menjadi tameng." (HR. al-Nasai)
Dalam riwayat lain, "Tameng salah seorang kalian dari neraka sebagaimana tameng yang melindunginya dari serangan musuh." (HR. al-Nasai)
Dalam hadits Mu'adz, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Shadaqah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam." (HR. Al-Tirmidzi)
Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu berkata,
"Shalatlah dua rakaat di kegelapan malam untuk gelapnya kubur, berpuasalah di hari yang sangat panas untuk (menebus) panasnya hari perhimpunan, dan bershadahlah dengan shadaqah (menebus) untuk hari yang sulit."
6. Dalam pelaksanaan puasa pastilah ada cacat dan kurang, sedangkan puasa bisa menghapuskan dosa-dosa bila puasanya memenuhi syaratnya, yaitu terjaga dari yang seharusnya dipeliharanya. Hal ini seperti yang terdapat dalam hadits yang dikeluarkan Ibnu Hibban dalam Shahihnya.
Umumnya manusia, puasanya tidak memenuhi syarat-syarat yang harus dipeliharanya. Oleh karena itu, seseorang dilarang mengatakan: "Aku telah berpuasa atau qiyam Ramadhan secara sempurna." Maka shadaqah menutup kekurangan dan cacat padanya. Karenanya, pada akhir Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah sebagai permbersih bagi orang yang berpuasa dari perkara lahwun dan perbuatan tercela.
7. Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya karena Allah. Jika ia menolong para shaimin untuk bertakwa dengan menyediakan makan dan minum untuk mereka maka kedudukannya seperti orang meninggalkan sikap egoisnya karena Allah dengan memikirkan dan membantu yang lain. Karena itu disyariatkan mengajak orang lain untuk berbuka bersamanya yang pada saat itu makanan menjadi sesuatu yang paling disukainya. Jika ia bisa berbagi dengan yang lain, semoga ia menjadi bagian dari orang yang memberi makanan yang disukainya kepada yang lain. Hal itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya makan dan minum untuknya setelah sebelumnya dilarang. Dan nikmat makan dan minum akan terasa luar biasa setelah sebelumnya tidak dibolehkan.

Sebagian ulama salaf saat ditanya tentang hikmah disyariatkan berpuasa menjawab, "Supaya orang kaya merasakan rasanya lapar sehingga tidak lupa terhadap orang-orang kelaparan." Dan ini termasuk hikmah dan faidah pelaksanaan ibadah shaum. 

Disebutkan dalam hadits Salman, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan muwasah (bersimpati/menolong orang lain). Maka siapa yang tidak mampu mengutamakan orang lain atas dirinya maka tidak termasuk orang yang suka menolong. Maka kita lihat banyak ulama salaf yang lebih mengutamakan orang lain saat berbuka, bahkan melayaninya. Adalah Ibnu Umar saat berpuasa, ia tidak berbuka kecuali bersama orang-orang miskin. Jika keluarganya melarangnya, maka ia tidak makan pada malam itu. Dan jika datang seorang pengemis padahal ia bersiap akan makan, maka ia ambil sebagian dari makanan itu lalu ia bawa pergi untuk diberikan kepada pengemis tadi, dan saat ia kembali sisa makanan tadi sudah habis dimakan keluarganya, maka pada saat itu ia berpuasa dan tidak makan apa-apa.
8. Sebab lainnya, kenapa kaum muslimin bersikap dermawan pada bulan Ramadhan ini adalah seperti yang diutarakan oleh Imam Syafi'i, al-Qadhi 'Iyadh, Abu Ya'la, dan lainnya rahimahumullah, "Sesuatu yang paling disuka oleh seseorang dalam menambah kedermawanan di bulan Ramadhan adalah karena mencontoh kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam." Juga karena pada bulan tersebut manusia terdesak dengan kebutuhan pokoknya sementara kesibukan kerja mereka tersita dengan ibadah shaum dan shalat tarawih. Sehingga jika orang kaya berbagi kepada saudara muslimnya yang kurang mampu, ia telah meringankan beban orang lain dan mempermudah urusannya. Dan Allah senantiasa menolong hamba, selama dia gemar menolong sesamanya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
"Siapa yang menghilangkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. . . dan Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya." (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan memenuhi kebutuhan kaum muslimin, memberi kemanfaatan bagi mereka dengan ilmu, harta, bantuan, nasihat, arahan kepada yang lebih bermanfaat bagi mereka, dan yang lainnya. Wallahu Ta'ala A'lam

Woensdag 17 Julie 2013

AMALAN RASULULLAH KETIKA BERBUKA PUASA



Ketika berbuka puasa sebenarnya terdapat berbagai amalan yang membawa kebaikan dan keberkahan. Namun seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering dilupakan adalah do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat tulisan berikut seputar sunnah-sunnah ketika berbuka puasa:
Pertama: Menyegerakan berbuka puasa.
Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka. Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)
Dalam hadits yang lain disebutkan,
لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ
Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih). Inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, 63)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)
Kedua: Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati. Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr). Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289). Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.
Ketiga: Sebelum makan berbuka, ucapkanlah ‘bismillah’ agar tambah barokah.
Inilah yang dituntunkan dalam Islam agar makan kita menjadi barokah, artinya menuai kebaikan yang banyak.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِىَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِى أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ
Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858, hasan shahih)
Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »
Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud no. 3764, hasan). Hadits ini menunjukkan bahwa agar makan penuh keberkahan, maka ucapkanlah bismilah serta keberkahan bisa bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).
Keempat: Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan). Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas. Ketika ingin makan, tetap membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka.
Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).  Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.
Kelima: Berdo’a secara umum ketika berbuka.
Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih). Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).
Keenam: Memberi makan berbuka.
Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)
Ketujuh: Mendoakan orang yang beri makan berbuka.
Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia.  Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)
Kedelapan: Ketika berbuka puasa di rumah orang lain.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud no. 3854 dan Ibnu Majah no. 1747 dan Ahmad 3/118, shahih)
Kesembilan: Ketika menikmati susu saat berbuka.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)
Kesepuluh: Minum dengan tiga nafas dan membaca ‘bismillah’.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah no. 1277)
Kesebelas: Berdoa sesudah makan.
Di antara do’a yang shahih yang dapat diamalkan dan memiliki keutamaan luar biasa adalah do’a yang diajarkan dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. 3458, hasan)
Namun jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17: 51)
Demikian beberapa amalan ketika berbuka puasa. Moga yang sederhana ini bisa kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhan kita penuh dengan kebaikan dan keberkahan. Wallahu waliyyut taufiq.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Sondag 14 Julie 2013

ALLAH MAHA MENERIMA TAUBAT

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertaubat kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).

Saudara-saudaraku, kezaliman apa pun yang pernah kau lakukan, maka ketahuilah bahwa pintu ampunan Allah sangatlah lebar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan bagi umat manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar keras siksanya.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 6).
Saudara-saudaraku, kemanakah hendak kau cari ampunan itu kalau bukan kepada-Nya yang berada di atas langit sana. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan sekaligus pemilik siksaan yang amat pedih.” (QS. Fushshilat [41] : 43).
Saudara-saudaraku, tidakkah engkau ingin termasuk orang-orang yang dicintai-Nya, tidakkah engkau ingin menjadi orang yang diampuni kesalahan dan dosa-dosanya? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertaubat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah [2] : 222).
Saudara-saudaraku, apakah kamu enggan untuk bertaubat dan menerima ampunan dari-Nya? Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Maa’idah [5] : 74).
Saudara-saudaraku, apakah kita tidak ingin terbebas dari azab yang sangat pedih? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila kalian bertaubat maka itulah yang lebih baik bagi kalian. Apabila kalian justru berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melemahkan Allah, dan berikanlah kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih.” (QS. At-Taubah [9] : 3).
Saudara-saudaraku, kembalilah kepada Dzat Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan doa dan amal-amal kalian. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam memerintahkan kepada kaumnya, sebagaimana tercantum dalam ayat (yang artinya), “Mintalah ampunan kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi Maha penyayang.” (QS. Hud [11] : 90).
Saudara-saudaraku, marilah kita sambut kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertaubat kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur [24] : 31).
Saudara-saudaraku, tidak inginkah kita amal-amal buruk dan kemaksiatan kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah kemudian Allah gantikan dengan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan melakukan amal salih, maka mereka itulah orang-orang yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang..” (QS. Al-Furqan [25] : 70).



Saudara-saudaraku, marilah kita gapai ampunan Allah dan keberuntungan dari-Nya dengan taubat yang murni, iman yang tulus dan lurus, serta amal yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun orang yang bertaubat, beriman, dan beramal salih, maka semoga saja dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash : 67).
Saudara-saudaraku, Allah Maha mengetahui isi hati kita dan keinginan-keinginan yang terbetik di dalamnya. Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memperbaharui taubat kita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy-Syura [42] : 25).
Ya Allah, terimalah taubat hamba-hamba-Mu ini… Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.

HIKMAH COBAAN KEHIDUPAAN BAGI SEORANG MUSLIM

Salah satu bentuk sikap seorang muslim yang harus dilakukannnya saat menghadapi pahit dan kegetirnya kehidupan adalah dengan merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.
Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:
“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.
Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:
1.
Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala.
2.Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :
“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”
3.Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.
Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :
”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.

Saterdag 13 Julie 2013

MENJEMPUT PERTOLONGAN ALLAH



Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)

Nikmati saja air mata ini mengalir,
Mengalir karena rindu pertolongan Allah…
Renungi saja air mata ini mengalir,  
Mengalir karena dosa-dosa yang kita perbuat selama ini…  
Tak Terasa air mata ini mengalir, 
Mengalir karena berharap taubat kita diterima oleh Allah… 
Wahai saudaraku… yakinlah Pertolongan Allah pasti datang…

Pembaca yang dirahmati Allah, semoga kita semua senantiasa dalam kasih sayang Allah subhanahu wata’ala.
Kita kadang kesal karena menanti seseorang yang kita tunggu tak kunjung datang, kecewa karena orang yang kita harap bisa untuk membantu kita ternyata tidak bisa, yang kita kira harta yang kita miliki dapat membereskan masalah, malah menambah masalah, dan marah karena orang yang kita percaya ternyata mengkhianati. Begitulah ketika kita menggantungkan hidup kita kepada selain Allah.
Nafsu ketidak sabaran kita sering menjerumuskan kita kepada kegagalan semua hal. Yang harusnya satu langkah lagi pertolongan Allah hadir, kita malah terlanjur mempercayai kekuatan manusia pada langkah sebelumnya, sehingga kita tidak sampai melangkah lagi. Yang mestinya Allah membayar hutang-hutang kita beberapa minggu lagi, kita malah mempercayai dengan pertolongan lintah darat sehingga kita makin jauh dari Allah. Yang seharusnya Allah menyembuhkan penyakit yang kita derita, kita malah pergi untuk berobat yang melanggar syar’i.
Begitu banyaknya dosa dan maksiat yang telah diperbuat, membuat permasalahan itu ada pada diri kita, baru saja kita melaksanakan dhuha, sholat taubat, bangun malam untuk mendirikan tahajjud, bersedekah, tetapi kita sudah berani untuk menghakimi Allah bahwa pertolongan Allah tidak ada.

Sekarang renungkan, berapa lama kita melakukan dosa dan maksiat selama ini?
Berapa lama kita meninggalkan sholat wajib?
Berapa lama kita meninggalkan sholat dhuha dan tahajjud dan ibadah yang lain?
Dan sudahkan kita berdekah yang terbaik yang kita miliki kepada Allah, lebih dari kita memberikan sesuatu kepada orang yang kita cintai?


Subhannallah…. Allah begitu sayang kepada kita, Allah begitu sabaaaaar menunggu kita setiap hari untuk kita bersujud kepada-Nya, Allah begitu sabaaaar menunggu kita setiap hari untuk kita berdo’a dan berharap hanya kepada-Nya, Allah begitu sabar menunggu kita untuk kita bertaubat dan mengakui semua dosa-dosa kita, Allah begitu sabar memberikan peringatan-peringatan kepada kita agar kita cepat kembali kepada-Nya…

Namun kita sering memaksa hanya dengan kita memperbaiki diri dan menjalankan ibadah satu minggu saja, kita memaksa Allah harus segera menghapuskan semua masalah dan dosa kita selama belasan tahun, bahkan mungkin puluhan tahun. Allah Kariim… tidak ada yang lebih baik daripada pertolongan Allah!

Coba kita semua introspeksi diri, sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk Allah, sholat wajib kita, dhuha kita, taubat kita, tahajjud kita, sedekah kita?
Bersabarlah saudaraku, biarkan semua taubat dan ibadah kita membersihkan dosa-dosa dan maksiat yang kita telah lakukan, biarkan semua itu menjadi amal kebaikan kita agar Allah memberikan kita kesabaran dalam menjemput pertolongan-Nya, serahkan seluruhnya kepada Allah, sesungguhnya Allah sebaik-baiknya pemberi pertolongan. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada kita untuk beribadah kepada-Nya, semoga Allah ridho untuk mengangkat segala kesulitan dan memudahkan segala urusan kita…

 Aamiin Ya Rabbal Alamiin

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (QS. Ar Ra’d:22).

Sumber : Cahaya Gemilang

MERAIH CINTA ILLAHI RABBI

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma Ba’du.
Bagaimanakah engkau mendapatkan cinta Allah ? Bagaimanakah engkau meraih keridhaanNya? Dan bagaimanakah engkau menjadi hambaNya ? Sesungguhnya cita-cita yang paling luhur dalam Islam adalah, saat engkau menjadi orang yang dicintai oleh Allah, orang yang dekat denganNya dan menjadi kekasih dan WaliNya. Karena itulah Rasulullah mengelompokkan para wali (orang-orang beriman) menjadi dua kelompok; orang yang pertengahan dalam beramal dan orang yang terdepan dalam melakukan kebajikan.
 Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Allah berfirman, Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, maka dia telah menantang perang denganKu, tidaklah hambaKu bertaqarrub kepadaKu dengan amal ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hambaKu tiada henti-hentinya bertaqarrub kepadaKu dengan segala yang sunnah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya, yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya, yang dengannya dia memandang, menjadi tangannya, yang dengannya dia menggenggam, dan menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah. Jika dia meminta kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi permintaannya dan jika dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku akan melindunginya.”

Ini adalah hadits wilayah(hadits yang menjelaskan tentang waliyullah/kekasih Allah) yang telah diuraikan maknanya oleh para ulama dalam buku-buku mereka. Hadits ini merupakan hadits yang amat agung dalam Islam, dan Imam asy-syaukani memiliki uraian yang indah dalam bukunya yang berjudul, “Qathr al-Waly Fi Syarh Hadits al-Waly”.
Dalam hadits ini Allah mengelompokkan orang-orang yang beriman menjadi dua kelompok, orang yang pertengahan dalam beramal (al-Muqtashid) dan orang yang terdepan dalam melakukan kebajikan (as-sabiq bil khairat).
Al-Muqtashidadalah orang yang menunaikan segala yang wajib dan as-sabiq bil khairat adalah orang yang mendekatkan diri (bertaqarrub) kepada Allah dengan segala yang sunnah. Allah berfirman, 
“Kemudian Kitab ini kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan.”(Fathir : 32)

Ibnu Taimiyah berkata yang artinya, “Semua golongan itu akan masuk surga.”
Ini merupakan berita gembira bagi kita karena kita menganggap diri kita termasuk orang-orang yang menganiaya diri.
Masruq bertanya kepada Aisyah “Wahai ibu, siapakah orang-orang yang terdepan dalam melakukan amal kebajikan ?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang terdepan dalam melakukan amal kebajikan adalah orang-orang yang pernah hidup bersama Rasulullah dan orang-orang yang pertengahan adalah orang-orang yang datang setelah mereka atau yang mengikuti mereka. Sedangkan orang-orang yang menganiaya dirinya adalah saya dan kamu.”
Ini adalah sikap tawadhu’ yang diperlihatkan oleh Aisyah.

Faktor-Faktor Menggapai Cinta Allah
Adapun faktor - faktor untuk menggapai cinta Allah adalah sebagai berikut :

Pertama, al-Qur’an al-Karim
Sesuatu yang paling besar manfaatnya dan paling dapat mendekatkan seseorang kepada Allah adalah Al Qur’an, karena dialah kitab yang agung yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah.

Maka tidak ada kesuksesan bagi umat ini dan tidak ada kebahagiaan baginya selain membaca dan mentadaburial-Quran. Ketika umat jauh dari al-Qur’an dan mencari alternatif lain selainnya, maka Allah akan melemparkan mereka dalam perdebatan.
Tirmidzi dan Abu Umamah meriwayatkan secara marfur’bahwa Rasulullah bersabda,

“Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mereka mendapatkan petunjuk, melainkan mereka dijadikannya saling berdebat.”
Umat Islam kini hidup dalam kerendahan nilai, prinsip dan pendidikan, ketika mereka berpaling dari al-Qur’an dan sunnah. Sehingga forum-forum mereka mandul, tidak memiliki faedah dan manfaat apa-apa serta tidak memberikan kebaikan kepada mereka, baik di dunia maupun di akhirat.
Umat yang mengambil kebudayaannya dari selain al-Qur’an, adalah umat yang tidak memiliki intelektualitas, daya nalar dan kemuliaan. Karena itulah, siapa pun yang mencermati kehidupan generasi as-salaf-as-shalih pada abad-abad yang utama, akan mendapati mereka memegang teguh al-Quran dan sunnah. Sehingga mereka menjadi generasi yang paling pantas, paling ikhlas, paling jujur, dan paling mulia dalam beribadah, zuhud dan kembali kepada Allah.
Namun ketika berpaling kecuali orang – orang yang dirahmati Allah dari al-Qur’an, maka hati kita menjadi mati dan kita kehilangan cahaya, sinar dan keinginan cahaya, sinar dan keinginan untuk kembali kepada Allah.
Allah berfirman kepada RasulNya, “Dan supaya aku membacakan al-Qur’an (kepada manusia)”. (An-Naml : 92). Tugas Nabi adalah membacakan al-Qur’an kepada Manusia dan karena itulah di awal hayatnya, beliau melarang menulis hadits agar manusia tidak disibukkan dengan hadits hingga meninggalkan al-Qur’an.
Muslim meriwayatkan dari Hisyam bin Sa’d bin ‘Amir dari bapaknya dari kakeknya – bapak dan kakeknya merupakan dua orang sahabat Anshar yang ikut dalam perang Badar dan Uhud – sebuah bait sya’ir yang berbunyi,

Itulah, akhlak-akhlak mulia, bukan sekedar dua campuran antara susu dengan air yang akhirnya menjadi kering.”

Jika seorang muslim ingin membanggakan diri, maka berbanggalah dengan ujian yang didapatnya dalam Islam, keberanian dan pengabdiannya untuk agama ini dan kemauannya meninggikan kalimat“La ilaha illallah.”
Adapun orang yang membanggakan diri dengan nasab, keluarga, etnis, kedudukan dan jabatan, maka itulah kebanggaan yang dilakukan Fir’aun dan orang-orang yang sama dengannya sampai Allah mewarisi bumi ini dan segala yang ada di atasnya.
Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah.” Dia berkata, “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.”
Itulah ungkapan yang amat padat setelah al-Qur’an dalam menggambarkan pribadi Rasulullah. Seolah-olah beliau adalah al-Qur’an yang berjalan di atas muka bumi. Jika engkau membaca al-Qur’an, maka seakan engkau membaca kehidupan Nabi.
 Allah berfirman kepada NabiNya dalam al-Qur’an,
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(al-Qalam : 4)
“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran : 159)

Allah berfirman,
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf : 199)
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (Keimanan dan Keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin .” (At-Taubah : 128)
Rasulullah telah mengajarkan kepada para sahabatnya bagaimana hidup bersama al-Qur’an melalui hadits – hadits yang jika dibaca oleh seorang muslim, akan menjadikan hatinya rindu ingin mendengarkan al-Qur’an.

Muslim meriwayatkan dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah bersabda :
“Bacalah al-Qur’an, karena karena kelak pada hari kiamat ia akan memberi syafa’at bagi para pembacanya.”
Jika al-Qur’an akan memberi syafa’at kepadamu, maka sungguh bahagianya hatimu.
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ustman bahwa Rasulullah bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Demi Allah, orang yang paling baik, paling luhur dan paling mulia dari kita adalah orang yang hidup bersama al-Qur’an.
Inilah kriteria yang Allah turunkan ke bumi, bukan kriteria penghuni bumi dan kaum materialis yang memandang manusia berdasarkan kedudukan, jabatan dan keturunan.
Karena itulah, Rasulullah memposisikan manusia sesuai dengan kadar kedekatan mereka dengan al-Qur’an dan beliau menghormati mereka sesuai dengan kadar hafalan mereka terhadap Kitabullah dan sesuai dengan kadar bacaan mereka terhadapnya.
Anas berkata, Rasulullah mengirim suatu pasukan untuk berperang di jalan Allah. Lalu beliau bertanya, “Siapakah dari kalian yang hafal al-Qur’an ?” Semuanya terdiam. Nabi lalu bertanya lagi, “Adakah seseorang dari kalian yang hafal al-Qur’an ?” Seorang laki-laki menjawab. “Aku wahai Rasulullah” Beliau bertanya kepadanya, “Surat apa yang kamu hafal?” Dia menjawab, “Saya hafal surat al-Baqarah”. Akhirnya beliau berkata kepadanya, “Pergilah, kamulah yang menjadi pemimpin pasukan ini.”
Inilah kriteria kelayakan dalam Islam, orang-orang yang komitmen dengan prinsip La ilaha illallah dan orang-orang yang kembali kepada Allah.
Selagi kamu hafal surat al-Baqarah di dalam dadamu, kamu hidup bersamanya dan mengamalkan kandungannya, maka kamulah yang menjadi pemimpin pasukan.
Jabir berkata, “Rasulullah menanyakan para korban perang Uhud yang terbunuh. Siapa dari mereka yang paling banyak menghafal al-Qur’an, maka beliau mendahulukannya memasukkan ke dalam liang lahad.”
Al-Qur’an adalah teman berbicara di malam hari. Bahkan jika kamu memasuki rumah salah seorang sahabat Muhajirin atau Anshar, maka kamu akan mendapati al-Qur’an digantungkan di rumahnya, sedang pedang disampingnya. Pedang untuk menaklukkan negeri dan al-Qur’an untuk menaklukkan hati.
Karena itulah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa disebutkan bahwa Rasulullah mendengarkan bacaannya di malam hari. Abu Musa memiliki suara yang sangat indah yang mengalir ke dalam hati sehingga mampu berbicara secara langsung kepada jiwa manusia.
Rasulullah keluar dan merebahkan tubuhnya di emperan masjid yang berada di dekat rumahnya. Beliau pun mulai mendengarkan bacaan Abu Musa. Di pagi harinya, Nabi berkata kepadanya, “Engkau telah dikaruniai suara seperti suling keluarga Nabi Daud. Abu Musa bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tadi malam engkau mendengarkanku?” Beliau menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya”. Abu Musa berkata lagi, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, seandainya aku tahu engkau mendengarkanku, aku akan memperindah bacaanku untukmu.” Yaitu memperindahnya hingga lebih membekas lagi.
Al-Qur’an seluruhnya amat menakjubkan. Allah berfirman,
“Katakanlah (Hai Muhammad) Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur’an), lalu mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan.” (Al-Jin : 1).
Seorang ahli tafsir mengatakan, “menakjubkan” hingga jin pun menikmati al-Qur’an. Karena itulah jin mengatakan sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Ahqaf,
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata ,.”Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).”Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kita yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari adzab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari Adzab Allah di muka bumi dan dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Ahqaf : 29-32).
Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah kembali dari Tha’if, yaitu ketika beliau membaca Al-Quran di sebuah lembah kebun kurma. Ketika para jin mendengarkan al-Qur’an, mereka pun akhirnya masuk Islam dan beriman. Lalu kembali kepada kaum mereka untuk memberikan peringatan kepada mereka dan meninggikan kalimat “La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.”
Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya orang yang di dalam perutnya, tidak akan sedikit bacaan Al-Quran seperti rumah yang rusak.
Rumah yang tak berpenghuni adalah rumah yang ditempati burung-burung gagak, ular dan kalajengking.
Sedangkan hati yang tak diisi oleh al-Qur’an adalah hati yang diisi kemunafikan, bisikan setan, bisikan jahat, cinta buta, nyanyian-nyanyian kotor dan pandangan buruk.
Rasulullah memberi kabar gembira kepada sahabatnya dengan kedudukan dan kedekatan mereka dengan al-Qur’an.
Rasulullah berkata kepada sayyidul Al-Qurra’ Pemimpin para penghapal al-Qur’an). Ubai bin Ka’ab dari golongan Anshar, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk membacakan kepadamu ayat ini,
“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya).” (Al-Bayyinah : 1)
Allah dari atas langit yang tujuh menyebut-nyebut nama Ubai, salah seorang sahabat Nabi, kemuliaan apakah ini ?
Ubai berkata, “Apakah Allah menyebut-nyebut namaku kepadamu ?” Rasulullah menjawab, “Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya.” Akhirnya air mata Ubai pun menetes dan Rasulullah membacakan kepadanya surat al-Bayyinah.
DalamShahih Muslim disebutkan bahwasanya Rasulullah hendak bertanya kepada Ubai untuk menguji kedekatannya dengan al-Qur’an, banyak hafalannya, pengetahuannya dan kecerdasannya.
Beliau bertanya, “Wahai Abu Mundzir, ayat apakah yang paling agung dalam al-Qur’an ?”
Ubai menjawab, Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.”
Beliau bertanya kembali, “Ayat apakah yang paling agung dalam al- Qur’an ?”
Ubai menjawab,
“Allah tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya).”(Al-Baqarah : 255).
Rasulullah kemudian mengulurkan telapak tangannya, dan memukulkannya ke dada Ubai sambil berkata, “Hendaklah ilmu membuatmu bahagia, wahai Abu Mundzir.”
Inilah ilmu yang menjadi rebutan dan inilah ilmu yang bermanfaat. Maka jadilah Ubai sebagai sayyidul qurra’ (pemimpin para penghafal al-Quran). Rasulullah bahkan ketika lupa salah satu ayat lalu beliau diingatkan oleh salah seorang sahabat, beliau bertanya kepada Ubai usai shalat untuk memastikan, karena kedudukannya dengan al-Qur’an.
Sedangkan Rasulullah sendiri adalah orang yang sangat terpengaruh dengan al-Qur’an dan amat memperhatikannya.
Ibnu Abi Hatim dalam menafsirkan surat al-Gasyiyah menyebutkan, bahwa Rasulullah mendengar seorang wanita membaca al-Qur’an di malam hari. Beliau lalu meletakkan kepalanya di pintu rumah wanita itu yang terus membaca tanpa mengetahui bahwa Rasulullah sedang mendengarkannya. Dia membaca ayat,
Sudah datangkah kepadamu (tentang) hari pembalasan (Al-Ghasyiyah : 1)
Rasulullah pun menangis dan berkata, “Ya, telah datang kepadaku, ya, telah datang kepadaku.”
Para sahabat pun mendapat pengaruh al-Qur’an dari Rasulullah ketika mereka melihat beliau hidup bersama ayat-ayatnya seakan beliau melihatnya langsung.
Ibnu Katsir dalam bukunya al-Bidayah wa an-Nihayah ketika menyebutkan biografi Umar mengatakan bahwa Umar pernah sakit karena terpengaruh oleh satu ayat, sehingga para sahabat menjenguknya.
Dalam satu riwayat dikatakan bahwa ayat tersebut adalah firman Allah,
“Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya, Kenapa kamu tidak tolong-menolong ? Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” (Ash-Shafat : 24-26).
Dengan demikian, maka tidaklah mungkin seorang hamba mencintai Allah sebelum dia mencintai al-Qur’an. Karena itulah Ibnu Mas’ud mengatakan, “Janganlah seseorang dari kalian bertanya tentang cintanya kepada Allah, tetapi tanyakanlah kepada dirinya tentang cintanya kepada al-Qur’an”. Jika engkau mencintai al-Qur’an, maka engkau telah mencintai Allah, dan seberapa besar cintamu kepada al-Qur’an, maka sebesar itu pulalah cintamu kepada Allah.
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Usaid bin Khudhair bangun untuk membaca surat al-Baqarah, lalu kudanya berkeliling di kandangnya. Usaid membatalkan shalatnya karena kuda itu hampir saja menginjak anaknya dengan kakinya. Tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan mendekati kepalanya dan peristiwa itupun diceritakannya kepada Rasulullah. Beliau bertanya, “Apakah kamu benar-benar melihatnya ?” Usaid menjawab, “Ya” Beliau berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya malaikat turun untuk mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau membaca hingga pagi, tentu orang-orang akan melihatnya, karena tidak ada sesuatu yang dihalanginya.” Hadits dengan lafazh ini atau yang seperti ini adalah shahih.
Paras sahabat malamnya selalu bersama al-Qur’an, sedangkan kita, malam kita habis bukan bersama al-Qur’an, tetapi begadang yang tidak bermanfaat, mengobrol dan berdebat yang dibenci yang tidak berguna dan tidak mendekatkan kita kepada Allah serta tidak memberikan manfaat untuk dunia dan akhirat. Maka kita rugi karena tidak membuat kita dekat dengan Allah dan jauh dari derajat orang-orang yang baik.
Malam-malam kita habis dengan segala permainan dan kemaksiatan, sedangkan malam – malam mereka habis dengan al-Qur’an dan tahajud. 
Saya katakan kepada malam, apakah di perutmu ada rahasia
yang penuh dengan obrolan dan rahasia ?
Dia berkata, “Saya tidak pernah menemukan dalam hidupku suatu perbincangan

seperti perbincangan para kekasih di waktu sahur .”
Malam yang dihabiskan oleh para sahabat bersama al-Qur’an, sangat sedikit dari kita yang melakukannya.
Ibnu Abbas berkata, “Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, lalu Rasulullah datang dan masuk ke rumahnya setelah shalat Isya, sedangkan aku tidur di atas bantal. Beliau bertanya, “Apakah anak itu sudah tidur ?”
Ibnu Abbas pura-pura tidur dan tidak tidur yang sebenarnya.
Maimunah menjawab, “Sudah.” Kemudian beliau pergi ke ranjang, lalu berzikir dan berdoa kepada Allah, lalu tidur.
Ibnu Abbas berkata, “Hingga aku mendengar dengkurannya.
Setelah itu beliau bangun, menghilangkan rasa kantuk di matanya dan membaca,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Mahasuci Engkau, maka perilahalah kami dari siksa neraka’.”(Ali Imran : 190-191).
Beliau membaca ayat-ayat ini sehingga sempurna sepuluh ayat.
Kemudian beliau bangun dan keluar dari rumah. Ibnu Abbas menyusulnya dengan membawa air dan wadah lalu meletakkannya di depan pintu.
Setelah kembali, beliau melihat air, dan bertanya kepada dirinya, “Siapakah yang meletakkan air untukku ?”
Ibnu Abbas menghafal kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Nabi pada malam itu. Kemudian beliau mendoakannya :
“Ya Allah, berikanlah kepadanya pemahaman dalam bidang agama dan ajarkanlah kepadanya takwil.”
Inilah awal kehidupan intelektualitas Ibnu Abbas
Kemudian Rasulullah menghadap ke Kiblat dan membaca,
“Ya Allah, bagiMu segala puji , Engkau yang mengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji , Engkau cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji, Engkaulah raja langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. BagiMu segala puji, Engkaulah yang Haaq, janjiMu haq, firmanMu adalah haq, surga adalah haq, neraka adalah haq, para nabi adalah haq dan Muhammad adalah haq.”
“Ya Allah, kepadaMu aku berserah, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku tawakal, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku mengadu dalam penyelesaian pertikaian, kepadaMu aku mengharap keputusan. Ampunilah segala yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan, apa yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan.” 
Kemudian beliau bangun untuk melaksanakan shalat dan Ibnu Abbas ikut pula shalat bersama beliau pada malam yang panjang.
Rasulullah shalat dengan membaca Al-Qur’an hingga orang-orang yang ikut shalat bersamanya tidak mampu menahan diri hingga beliau selesai.
Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shalat dan aku pun ikut shalat bersamanya. Beliau membaca surat hingga aku ingin melakukan sesuatu yang buruk.” Ketika ditanya,” Apa yang ingin engkau lakukan?” Dia menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi.”
Hudzaifah berkata, “Aku shalat bersama Rasulullah, lalu beliau memulainya dengan membaca surat al-Baqarah. Aku katakan, Beliau ruku ketika telah membaca seratus ayat’ kemudian beliau membaca lagi al-Qur’an dan memulainya dengan surat an-Nisa’ (menurut susunan mushaf Ibnu Mas’ud), lalu membacanya. Aku katakan, ‘Beliau rukuk ketika telah sampai akhir surat.’ Kemudian beliau memulai lagi dengan membaca surat Ali Imran, lalu membacanya. Beliau bertasbih ketika menjumpai ayat tasbih, memohon karunia kepada Allah ketika menjumpai ayat rahmat dan berlindung kepada Allah ketika menjumpai ayat adzab.”
Ini shalat yang dilakukan oleh Rasulullah.
Jadi, faktor pertama yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Allah adalah membaca Al-Qur’an, hidup di bawah naungannya, mentadaburinya,lalu mengulangi bacaannya dan mengamalkannya.
Kedua, melepaskan dunia (tajarud ‘anidduniya) dan zuhud terhadapnya.
Ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sahal bin Sa’ad bahwasanya dia berkata, “Ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, lalu dia bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku amal perbuatan yang jika aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku?” Beliau menjawab,
“Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.”
Hal yang paling agung yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah adalah menyingkirkan cinta dunia dari hatinya.
Jika seorang hamba mengeluarkan cinta dunia dari hatinya dan mengisinya dengan cinta kepada Allah, maka Allah akan mencintainya.
Cinta Allah tidaklah dapat diraih kecuali engkau menjadi hambaNya dan penghambaan berarti tunduk, merendah dan pasrah kepada Allah.
Karena itulah Allah berfirman kepada RasulNya ketika memuliakannya dengan memperjalankannya dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha (Isra’),
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya dari al-Masjid al- Haram ke al-Masjid al-Aqsha .” (Al-Isra : 1).
Ketika memberi peringatan kepadanya, Allah berfirman,
“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya .” (Al-Jin : 19).
Ketika Allah menjelaskan bahwa Dia yang menurunkan al-Qur’an kepadanya. Dia berfirman kepadanya,
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hambaNya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”(Al- Furqan : 1).
Keunggulan as-salaf as-shalih atas diri kita pada sisi ini, mereka telah melepaskan dunia. Dunia ada di tangan mereka, tetapi tidak ada di hati mereka. Karena itulah Allah mencintai mereka.
Rasulullah telah memperingatkan mereka dan juga kita dari cinta dunia dan menyembah kepadaNya. Sebab ada sebagian manusia yang menyembah dinar dan dirham. Ada yang menyembahkhamishah(sejenis pakaian) dan khamilah(pohon-pohon yang lebat).
Ada pula yang menyembah jabatan dan pangkat.
Rasulullah bersabda,
“Celakalah hamba dirham,celakalah hamba dinar, celakalah hamba khamilah, celakakah hamba khamisah, celakalah ia dan tersungkurlah. Jika ia terkena duri semoga ia tidak bias mencabutnya.”
Mengapa mereka celaka ? Karena mereka telah menjadi budak hawa nafsu,
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya.” (Al-Jatsiyah : 23). 
Kita telah sering mendengar kisah Muhammad bin Wasi’az-Zahid ketika bergabung dalam pasukan yang dipimpin oleh Qutaibah untuk meninggikan kalimat la ilaha illallah di belahan timur wilayah Islam.
Qutaibah ingin mengujinya di hadapan para komandan perang dan para menteri. Sambil memegang kantong berisi emas yang besarnya seperti kepala banteng, yang diperolehnya dari musuh, dia bertanya kepada mereka, “Apakah menurut kalian ada orang yang menolak kantong ini jika disodorkan kepadanya?’
Mereka menjawab, “Kami rasa tak seorang pun yang tidak menginginkan harta ini.
Qutaibah berkata, “Akan aku perlihatkan kepada kalian seorang dari umat Muhammad, yang emas baginya seperti debu. Panggillah Muhammad bin Wasi’ kepadaku!”
Kemudian para tentara pergi untuk membawa Muhammad bin Wasi’ menghadap kepada komandannya (Qutaibah). Mereka menemukannya sedang bertasbih, istighfar dan memuji Allah atas kemenangan kaum muslim.
Ketika dia menghadap, Qutaibah memberikan kepadanya emas, lalu dia pun mengambilnya. Qutaibah terkejut, karena dia mengira emas itu akan dikembalikan sehingga wajahnya berubah di hadapan para komandan dan menteri.
Muhammad bin Wasi’ lalu keluar dengan membawa emas. Qutaibah meminta kepadanya meminta kepada sebagian tentaranya untuk mengawasinya kemana di pergi ? Dan dia berkata, “Ya Allah janganlah Engkau pelesetkan dugaanku kepadanya”
Muhammad bin Wasi’ pergi membawa emasnya dan di jalan dia bertemu dengan seorang fakir miskin yang meminta-minta kepada tentara, lalu Muhammad bin Wasi’ memberikan seluruh emasnya kepadanya. Akhirnya berita ini disampaikan kepada Qutaibah dan dia pun berkata kepada para komandan dan menteri, “Bukankah aku katakan kepada kalian, ada seseorang dari umat Muhammad yang emas baginya seperti debu?”
Inilah kezuhudan! Dan kisah ini selalu saya ulang-ulang, karena dia amat membekas.
Kita perlu untuk selalu mengulang-ulangnya dalam khutbah-khutbah, nasehat-nasehat, pelajaran, pendidikan dan bimbingan agar manusia kembali kepada Allah. Sebab ada orang yang telah menjadi budak dunia sehingga tidak lagi mampu menghadiri majelis-majelis ilmu dan dakwah serta tidak mampu berkonsentrasi dalam zikir dan membaca al-Qur’an karena dunia.
Kita amat perlu untuk mengulang-ulang pelajaran ini agar hati-hati manusia sadar dan bangkit dari tidur dan kelalaiannya.
Ibnu Umar berkata, seperti yang tersebut dalam Shahih alBukhari, Rasulullah memegang pundakku dan berkata,
“Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melewati jalan.
Maka Ibnu Umar pun menjadi seorang sahabat yang paling zuhud terhadap dunia, bahkan dia lepaskan jabatan khilafah, padahal dia layak memangkunya seandainya dia meminta, karena hati semua orang telah tertarik kepadanya. Namun dia tinggalkan jabatan itu karena dia ingin mengamalkan nasehat Rasulullah. Dia seperti orang asing di dunia dan orang yang sedang melewati jalan, yang mengambil sedikit saja bekal dan meninggalkan segala kemewahannya.
Tajarud(melepaskan) dunia artinya engkau mengambil dari dunia ini apa yang berguna bagimu dan tidak membuatmu disibukkan olehnya serta menjadikannya sebagai penolong dalam rangka ketaatan kepada Allah.
Sementara sebagian orang memahami zuhud dengan meninggalkan dunia. Ini tidak benar.
Sebagian ulama menafsirkan zuhud dengan meninggalkan yang haram dan defenisi ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad. Semua orang tentu dianggap zuhud jika zuhud hanya sebatas ini (meninggalkan yang haram).
Ibnu Taimiyah berkata, “Zuhud adalah meninggalkan segala yang tidak bermanfaat bagi akhirat. Sedangkan apa yang bermanfaat baginya, maka tidak boleh ditinggalkan”. 
Ketiga,qiyamullail (shalat malam)
Faktor ketiga untuk meraih cinta Allah adalah shalat malam. Di sinilah kita mengadukan keadaan kita kepadaNya.
Allah menyebutkan sifat hamba-hambaNya dalam firmanNya,
“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (Adz-Dzariyat : 17-18).
Juga dalam firmanNya yang lain,
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dalam harap, dan mereka menafkah-kan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (As-Sajadah : 16).
Tentang orang-orang yang beriman dari Ahli Kitab, Allah berfirman, 
“Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat).” (Ali Imran : 113).
Rasulullah telah mendorong manusia agar melakukan shalat malam.
Shalat malam biasa dilakukan setengah jam atau sepertiga jam sebelum subuh, meski hanya dua rakaat agar Anda termasuk orang-orang yang mengingat Allah pada waktu itu.
Di dalam ash-Shahihaian,Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda,
“Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang tersisa, lalu Dia berkata, Adakah orang yang meminta, maka akan aku berikan permintaannya ? Adakah orang yang memohon ampunan, maka aku akan ampuni kesalahannya ? Adakah orang yang berdoa, maka aku akan kabulkan doanya?”
Allah turun sesuai keagunganNya dan kita tidak mempertanyakan bagaimana turunNya, tidak kita serupakan dengan makhlukNya dan kita tidak nafikan kandungannya.
Waktu ini adalah waktu yang banyak diabaikan orang, dan barangsiapa yang mengabaikannya, maka dia rugi dan hina, kecuali karena sakit, atau begadang untuk suatu kebaikan yang harus dilakukan, atau karena dalam perjalanan.
Rasulullah berkata, “Wahai Abdullah, maksudnya adalah Ibnu Umar janganlah seperti si Fulan, dia melakukan shalat malam, lalu meninggalkannya.
Hadits ini terdapat dalam kitab ash-Shahih
Ibnu Umar berkata, “Seorang sahabat apabila bermimpi, maka dia menceritakannya kepada Rasulullah, dan aku berharap bermimpi baik agar aku dapat menceritakannya kepada beliau.” Ibnu Umar berkata, “Ketika aku muda dan masih lajang, aku tidur di masjid, aku bermimpi dua orang laki-laki mengajakku ke sebuah sumur yang dibuat dari batu. Lalu aku melihat ke bawahnya dan aku merasa takut. Kedua orang yang mengajakku berkata, ‘Jangan takut.’ Lalu aku mengambil sehelai sutra yang jika aku isyaratkan ke arah manapun dari kebun yang hijau, niscaya aku dibawa terbang olehnya ke tempat itu. Di pagi hari aku ceritakan mimpiku kepada saudara perempuanku, Hafshah yang juga istri Rasulullah, lalu dia menceritakannya kepada beliau. Maka beliau berkata, “Sebaik-baik hamba Allah adalah Abdullah, seandainya dia melakukan shalat malam.
Nafi’ budak Ibnu Umar berkata, “Setelah itu Ibnu Umar tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.”
Jika dalam perjalanan, Ibnu Umar juga tetap shalat, lalu dia bertanya kepada Nafi’, “Wahai Nafi’ apakah fajar telah terbit?” Jika dikatakan, ‘belum’, dia meneruskan shalatnya dan jika dikatakan, ‘telah terbit’, dia shalat witir satu rakaat, lalu menghadap Kiblat untuk melakukan shalat fajar.
Hal-hal yang dapat membantu melakukan shalat malam sebagaimana yang dikemukakan para ulama, antara lain :
  1. Mengurangi maksiat di siang hari Seorang laki-laki berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id, aku tidak bisa shalat malam,” Al-Bashri menjawab, “Demi Tuhan Ka’bah, maksiat telah mengikatmu.
  2. Membaca wirid yang diajarkan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, yaitu tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali.
  3. Tidak begadang di malam hari, karena saat ini orang begadang bukan untuk melakukan sesuatu yang diridhai Allah, kecuali orang yang dirahmatiNya. Bagaimana mungkin orang yang tidak tidur dari pukul 12 malam hingga pukul 2 pagi bisa melakukan shalat malam ? padahal waktu ini adalah waktu shalat malam bagi as-salaf ash-shalih.
  4. Qailulah(tidur di siang hari) agar dapat melakukan shalat di malam hari atau mencari ridha Allah.
Shalat malam merupakan sunnah yang dilakukan Rasulullah dan syi’ar Islam. Ketika kita meninggalkannya, kita kehilangan panasnya iman, kehilangan waktu untuk melakukan perhitungan terhadap diri (muthasabatunnafsi) dan kehilangan kesempatan untuk menghadap kepada Allah.

Keempat,merenungkan ayat-ayat Allah
Allah berfirman,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi,dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang – orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Ali Imran : 190-191).
Setiap kali Anda merenungkan ayat Allah, maka ayat itu akan menunjukkanmu kepadaNya.
Di setiap sesuatu terdapat tanda
Yang menunjukkan keesaanNya
Sungguh aneh, bagaimana Tuhan ditentang
Atau bagaimana orang ingkar kepadaNya
Di setiap kejapan mata, di setiap pandangan, di setiap pohon, di setiap bunga, dan di setiap gunung terdapat ayat-ayat Allah.
Betapa banyak ayat-ayat Allah yang kita lewati, tapi kita mengambilnya sebagai pelajaran kecuali bagi orang yang ditolong Allah untuk bertafakur. Allah berfirman,
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana dia dihamparkan.” (Ali-Ghasyiyah : 17-20).
Merenungkan ayat-ayat Allah adalah sesuatu yang akan mendorong Anda untuk beribadah kepadaNya. Ini adalah ibadah orang-orang shalih yang selalu merenungkan ayat-ayat Allah yang jelas, semua ciptaanNya dan keindahan ciptaan Tuhan langit sehingga mereka kembali dengan keimanan dan keyakinan.
Betapa indahnya seandainya perjalanan kita dan rekreasi kita, kita manfaatkan untuk merenungkan ayat-ayat Allah. Maka tidak ada sebuah pohon pun yang dilewati manusia, kecuali seakan pohon itu berbicara kepadanya, La ilaha illallah.
Inilah sarana paling besar untuk mencintai Allah yang menciptakan segala sesuatu bagi kita dan ayat-ayatNya agar kita dapat mengambilnya sebagai pelajaran, sehingga kita semakin dekat denganNya.
Tanyakanlah kepada dokter yang tertimpa kecelakaan
Wahai dokter yang tahu tentang kedokteran, siapakah yang telah mencelakakanmu ?
Tanyakanlah kepada orang sakit yang selamat dan sembuh
Setelah semua cara pengobatan tak mampu menolongnya, siapakah yang menyembuhkanmu ?
Tanyakanlah kepada lebah, wahai burung-burung lembah
Siapakah yang menghiasimu dengan madumu ?
Jika kamu melihat ular besar mengeluarkan bisanya
Tanyakanlah kepadanya, siapakah yang mengisi bias itu ke dalam dirimu ?
Tanyakanlah, wahai ular, bagaimana engkau hidup
Sedang racun bias memenuhi mulutmu ?
Segala puji bagi Allah yang Maha Agung dengan DzatNya.
Yang tidak ada seorang pun melainkan semuanya dariMu.

Sumber :  Buku "Jagalah Allah maka Allah akan menjagamu" Karya Syekh Aidh Al Al Qarni )