Dinsdag 28 Mei 2013

BERSIAP MENYAMBUT KEDATANGAN RAMADHAN 1

Ustadz Abu Muhammad Ismal Halim



Di dekat rumah kami, ada kedai bubur ayam yang sangat laris. Walau tak terlalu besar, ramai orang datang sepanjang hari. 

Uniknya, setiap Ramadhan kedai ini tidak pernah buka melayani pembeli. Tidak saja pada pagi dan siang hari saat orang-orang berpuasa, tetapi juga pada petang dan malam hari saat orang berbuka.

Pasti ada yang istimewa dengan sang pemilik kedai. Selama 11 bulan, ia tentu telah mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci, menyisihkan sebagian keuntungannya. Saat Ramadhan tiba, tanpa ragu ia menutup kedainya sebulan penuh hingga bisa lebih fokus beribadah pada bulan ‘emas’ ini.

Orang-orang seperti ini tidaklah banyak jumlahnya. Kebanyakan orang tidak peduli dengan datangnya Ramadhan, justru semakin sibuk dengan berbagai bisnis dan transaksi ekonomi, bahkan lebih sibuk lagi menjelang Idul Fitri. Bandingkan dengan fakta yang sering terjadi. Masjid semakin sepi jamaah pada malam-malam akhir Ramadhan.

Sebalik nya, mal-mal atau pusat perbelanjaan lain semakin ramai dikunjungi pembeli. Antrean tiket di loket-loket angkutan umum semakin panjang. Jalan-jalan antarkota antarprovinsi semakin dipadati ken daraan.

Tak banyak orang dan keluarga yang ‘cerdas’ menyikapi kedatangan tamu istimewa. Tak banyak pula yang tangkas menyiasati berbagai keadaan yang dapat mengganggu kesyahduan Ramadhan. Ada beragam cara, tetapi kata kuncinya sederhana, kepedulian         ( awareness), didukung oleh perencanaan dan persiapan matang. (Lihat QS al-Hasyr [59]:18).

Memang tidak semua leluasa keadaannya. Masih ada saudara-saudara kita yang jangankan menabung untuk  memenuhi hajat hidup sehari-hari pun harus gali lubang tutup lubang. Ada pula saudara-saudara kita yang harus tetap be kerja, bahkan semakin sibuk melayani masyarakat pada bulan suci.

Kepada mereka tentu Allah SWT tidak akan memberikan beban melebihi kemampuannya (QS al-Baqarah [2]:286).

Apa pun, kita pasti akan mendapatkan keuntungan dari bu lan Ramadhan, selama masih ada kepedulian ( awareness) atas satu-satunya bulan yang tersurat di dalam Alquran ini. Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan kepada kita akan datangnya bulan Ramadhan mulia. Dua bulan sebelum nya, sejak bulan Rajab, beliau telah mengajarkan sebuah doa yang indah, “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban. Dan, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”

Pada bulan Sya’ban, Rasul SAW pun semakin meningkat kan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Beliau SAW, misalnya, tidak pernah melakukan puasa sunah sebanyak yang dilakukan di bulan Sya’ban. Para ulama pewaris nabi pun sangat teliti mengondisikan diri.

Mendekati bulan suci, mereka lebih menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat, menyambung dan memperbaiki silaturahim, serta terus membekali diri dengan ilmu-ilmu yang diperlukan. Adalah Rasulullah SAW, yang dengan ceria dan penuh semangat, senantiasa memberi kabar gembira atas kedatangan bulan Rama dhan. 

Sudahkah kita bersiap menyambutnya? 

Wallahu a’lam.

Maandag 27 Mei 2013

ALLAH AL MUIZ, YANG MAHA MULIA

Dalam Al-Qur’an, kata Mu’iz, yang merujuk langsung pada sifat Allah, tidak ditemukan. Tetapi, kata kerja yang menunjukkan kegiatan Allah dalam penganugerahan kemuliaan kepada hamba-Nya, bisa dijumpai dalam beberapa ayat. Salah satu di antaranya adalah: “Engkau memberi kemuliaan kepada siapa yang Engkau kehendaki.” (Ali Imraan: 26)

Siapakah yang dikehendaki Allah untuk dimuliakannya? Al-Qur’an membocorkan rahasia itu kepada kita, sebagaimana firman-Nya: “Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafiq itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8)
Kemuliaan menurut ayat di atas hanya pantas disandangkan kepada mereka yang mempunyai kedekatan hubungan dengan Allah. Orang yang menjaga jarak dengan Allah, menjauh dari ajaran-Nya, dan melalaikan-Nya, maka Dia akan mencabut kemuliaannya.

Al-Qur’an mengingatkan tentang beberapa hal yang bisa melalaikan manusia dari mengingat Allah, di antaranya adalah harta kekayaan. Karunia Allah yang awalnya diberikan sebagai fasilitas hidup, tapi oleh manusia justru dijadikan sebagai tujuan hidup. Bahkan, sebagian besar manusia memandangnya sebagai kemuliaan. Tak heran jika ada yang mengira bahwa kemuliaan manusia itu terletak pada seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Dalam keadaan seperti itu, manusia berubah dari Hamba Allah menjadi budak harta atau budak dunia. Mereka mengira bahwa harta, jabatan, popularitas, dan kemegahan duniawi lainnya bakal dapat mengekalkan dan menjadikannya abadi di dunia ini.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (At-Takatsur: 1-2)
“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”. (Al-Humazah: 3 dan 4).
Pesan penting yang harus dicamkan baik-baik di sini, adalah bahwa kemuliaan itu bukan berada di luar, bukan faktor eksternal. Kemuliaan itu sesungguhnya ada pada diri kita sendiri, ketika kita mampu menggali nilai-nilai ilahiyah dalam diri. Inilah yang akan melahirkan percaya diri (self-confidence), menumbuhkan harga diri, dan selanjutnya mendorong kemandirian. Di sinilah sesungguhnya letak kemuliaan itu.
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (Al-Israa: 14)
Allah telah memuliakan kita karena kedekatan hubungan kita kepada-Nya. Satu lagi tugas kekhalifahan yang harus kita jalani, yaitu memuliakan orang lain. Jika kita ingin dimuliakan, maka muliakanlah orang lain. Jika kita ingin dihormati, maka hormatilah orang lain. Jangan sekali-kali memandang rendah orang lain, karena setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat. Yang membedakannya adalah iman dan taqwanya. Dengan semangat memuliakan, akan tercipta kedamaian dan ketentraman batin. 


Hamim Thohari
* Tulisan ini telah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) No. 23/Tahun II/2006

ALLAH ARRAZAQ, MAHA PEMEBERI RIZKI, RIZKI-MU TAK HABIS DIBAGI

Aku tidak menghendaki sedikitpun rizki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyaat: 57-58)


Kata Ar-Razzaq hanya bisa kita temukan dalam al-Qur’an sekali saja, sebagaimana yang disebut di awal tulisan ini. Te­tapi yang menggunakan akar kata yang sama, ra-za-qa dapat kita jumpai di ba­nyak surat dan ayat al-Qur’an.Pada awalnya rezeki itu bermakna tunggal, yaitu pemberian untuk jangka waktu tertentu. Makna ini sekaligus mem­bedakan antara rezeki dengan hibah, atau antara makna Ar-Razzaq dengan Al-Wahhab. Dalam perkembangannya makna rezeki itu meluas dan melebar, kadang bermakna pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, juga hujan yang turun dari langit, bahkan anugerah kenabian pun disebut sebagai rezeki, sebagaimana perkataan Nabi Syuaib kepada kaumnya:
“Wahai kaumku, bagaimana penda­patmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari-Nya rizki yang baik (yakni kenabian)?” (QS. Huud: 88)

Dengan demikian, maka rizki itu bisa meliputi segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik bersifat material maupun spiritual. Rizki itu tidak hanya bersifat kebendaan, tapi juga bisa berupa kebahagiaan, sembuh dari sakit, kesempatan beribadah dengan baik, hidayah, dan banyak lagi lainnya. Sungguh tak terhingga rizki yang telah diberikan kepada kita.Setiap makhluk hidup telah dijamin rizkinya oleh Allah, apalagi manusia. Tak seorangpun dibiarkan hidup tanpa jaminan rizki, sebagaimana firman-Nya:
“Dan tidak satu binatang melata yang bergerak di muka bumi, kecuali Allah telah menjamin rizkinya.” (QS. Huud: 6)
Karenanya, tidak ada alasan bagi manusia untuk mencari rizki yang haram, sebab rizki yang halal sudah disedikan buat mereka. Hanya saja mereka kurang bersabar atau mereka kurang puas (tidak qanaah). Andai saja mereka sedikit ber­sabar atau memiliki sifat qana’ah, tentulah mereka akan mendapatkan rizki yang baik dan halal.Tentu saja rizki itu tidak datang be­gitu saja, melainkan harus diusahakan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan “sunnatullah”. Bukankah semua manu­sia terikat oleh hukum-hukum yang meng­atur makhluk dan kehidupannya? Sesungguhnya rasa lapar dan hausnya, hingga insting untuk mempertahankan dirinya merupakan jaminan rizki dari Allah. Tanpa rasa lapar, tanpa insting mempertahankan diri, manusia tak terdorong untuk mencari makan (bekerja).

Bersamaan dengan itu, Allah SWT menghamparkan bumi yang di dalam dan di atasnya terdapat rizki yang berlimpah ruah. Segala yang dibutuhkan manusia terdapat di sini, berapapun besarnya jumlah penduduk bumi. Kalaulah teori Malthus itu benar, tentu sekarang ini terjadi kelangkaan bahan pangan dan sebagian besar manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Ternyata, sebagian besar manusia hidup lebih makmur.

Jarak antara manusia dengan rizkinya lebih jauh dibandingkan dengan binatang, apalagi tumbuh-tumbuhan. Allah menyiapkan rizki pada tetumbuh­an di tempat tumbuhnya, sedang bagi binatang disediakan dalam jumlah yang banyak, hanya saja harus ada usaha untuk mendapatkannya. Bedanya dengan manusia, jika binatang cukup dengan mengandalkan instingnya, sedang manusia harus berusaha dengan menggunakan akal, ilmu, dan sedikit teknologi. Allah telah menyiapkan sarana yang cukup, sedang manusia diperintahkan untuk mengolahnya. Pengelolaan itulah yang menjadi nilai tambah. Itulah rizki, sebab Allah mendatangkan rizki-Nya me­la­lui keterlibatan tangan-tangan makhluk-Nya. Itulah sebabnya, Al-Qur’an memilih kata “Nahnu” atau “Kami” ketika berbicara tentang pemberian rizki, seba­gaimana firman-Nya:
“Kami memberi rizki kepadamu dan kepada mereka anak keturunanmu.” (QS. Al-An’Am: 151)


Jaminan rizki itu juga diberikan ke­pada “Daabat” yang berarti makhluk melata yang bergerak. Kata bergerak itu menjadi sangat penting, sebab jangan berharap mendapatkan rizki dari-Nya sementara kita tinggal diam, menunggu, pasif, malas bekerja, atau bekerja tanpa ilmu, tanpa akal, dan tanpa tehnologi. Untuk mendapatkan zamzam, Siti Hajar harus lari-lari dari bukit Shafa dan Marwa. Itulah pelajaran sya’i yang kita dapatkan dari ibadah haji. Bagaimana cara meneladani sifat Allah Ar-Razzaq? Sangat mudah, kita hanya dituntut untuk membagikan (sharing) dari sebagian rizki yang telah dianugerahkan oleh-Nya untuk para fakir miskin dan orang-orang yang lebih membutuhkan.
“Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rizkikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 54)
Ketika perintah ini kita laksanakan, ketika kita membagikan sedikit rizki Allah kepada mereka yang berhak menerimanya, maka saat itu sesungguhnya kita sedang meneladani akhlak Allah, Ar-Razzaq. Mudah-mudahan kita bisa menjalankannya. 


* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 15/Tahun II/2006

Sondag 26 Mei 2013

H I D A Y A H

Ketentraman dan hidayah… Keduanya adalah mata air kebahagiaan.
Dengan ketentraman seorang hamba akan terbebas dari cekaman rasa takut dan kesedihan. Dan dengan hidayah maka seorang hamba akan mengetahui dan menemukan jalan keluar bagi berbagai macam persoalan.
Lebih dari itu semua, sesungguhnya puncak kebahagiaan seorang yang bertauhid terletak pada keduanya. Petunjuk di dunia dan keamanan yang hakiki di akherat kelak. Itulah dua buah perkara yang sangat diambakan oleh setiap insan.

URGENSI KETENTRAMAN DAN KEAMANAN
Ketentraman dan rasa aman sangat diperlukan oleh umat manusia. Sebaliknya, cekaman rasa takut membuat hidup mereka tidak nyaman. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa kepada Allah meminta keamanan sebelum memohon agar dijauhkan dari praktek-praktek kesyirikan sebagaimana diceritakan di dalam al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa, ‘Rabbku. Jadikanlah negeri ini sebagai negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada patung.’.” (QS. Ibrahim [14]: 35)
Asy Syaukani mengatakan, “Pengajuan permintaan keamanan sebelum semua permintaan yang disebutkan sesudahnya dikarenakan apabila rasa aman sudah hilang, maka tidak tersisa lagi kesempatan baginya untuk mengurusi hal-hal yang lain, baik yang menyangkut urusan agama maupun urusan keduniaan.” (Fathul Qadir, Maktabah Syamilah.Masih segar dalam ingatan kita, rumah-rumah yang hancur akibat gempa Jogja beberapa waktu yang silam. Masih terngiang-ngiang di telinga, isak tangis anak-anak kecil yang kehilangan orang tua, sanak saudara, dan rumah satu-satunya. Hari-hari yang diwarnai dengan rintihan kesakitan para korban gempa. Masih terbayang-bayang di mata, kaki-kaki dan tangan-tangan yang patah dan berlumuran darah. Masih melekat dalam benak kita, bagaimana manusia berlarian demi menyelamatkan dirinya. Pada hari itu, rasa aman telah hilang dan berganti dengan ketakutan yang mencekam. Pada saat seperti itu, tidak ada lagi yang mereka pikirkan kecuali bagaimana bisa mengamankan jiwanya dari ancaman kematian!)

PENTINGNYA HIDAYAH
Hidayah atau petunjuk adalah perkara yang dibutuhkan oleh setiap orang. Karena demikian pentingnya hal ini, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk meminta petunjuk kepada Allah minimal 17 kali dalam sehari semalam di setiap raka’at shalat yang kita kerjakan. Yaitu dengan doa yang terdapat dalam surat al-Fatihah,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيم
“Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6)
Ibnul Qayyim mengatakan, “Ayat ini mengandung penjelasan bahwa sesungguhnya hamba tidak akan mendapatkan jalan untuk menggapai kebahagiaannya kecuali dengan tetap istiqamah di atas jalan yang lurus. Dan tidak ada jalan untuk meraih keistiqamahan baginya kecuali dengan hidayah dari Rabbnya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan baginya untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk bisa istiqamah di atas jalan tersebut kecuali dengan hidayah dari-Nya.” (Al-Fawa’id, hal. 21)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya bukan karena sedemikian besar kebutuhan hamba untuk memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah ta’ala tidak perlu membimbing hamba-Nya untuk melakukan hal ini. Karena sesungguhnya setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah ta’ala di sepanjang waktu dan keadaan agar petunjuk itu tetap terjaga, kokoh tertanam, semakin paham, meningkat, dan agar dia terus berada di atasnya…”
Syaikhul Islam rahimahullah berkata , “Seorang hamba senantiasa berhajat terhadap hidayah Allah menuju jalan yang lurus. Maka dari itu dia sangat memerlukan tercapainya maksud di balik doa ini. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari azab dan bisa menggapai kebahagiaan kecuali dengan hidayah ini. Barang siapa yang kehilangan hidayah ini maka dia akan termasuk golongan orang yang dimurkai atau golongan orang yang sesat. Dan petunjuk ini tidak akan diraih kecuali dengan petunjuk dari Allah. Ayat ini pun menjadi salah satu senjata pembantah kesesatan mazhab Qadariyah.”
“Adapun pertanyaan, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan hidayah kepada mereka (umat Islam) oleh sebab itu mereka tidak perlu meminta hidayah’ beserta jawaban orang untuk pertanyaan itu bahwa ‘yang dimaksud dengan ayat ini adalah permintaan agar hidayah itu terus menerus menyertai hamba’, maka itu semua merupakan ucapan orang yang tidak paham hakekat hukum sebab akibat dan tidak mengerti isi perintah Allah. Karena sesungguhnya hakekat jalan yang lurus itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya dengan cara mengilmui dan mengamalkannya . Dan juga untuk menjaga (hamba) supaya tidak menerjang larangan Allah. Nah, hidayah semacam ini sangat diperlukan di setiap saat, agar dia bisa berilmu dan beramal sebagaimana apa yang diperintahkan Allah serta meninggalkan larangan-Nya pada kesempatan tersebut. Hidayah dibutuhkan oleh hamba untuk membangkitkan tekad yang bulat dalam rangka menjalankan perintah. Demikian pula, diperlukan kebencian yang sangat dalam untuk bisa meninggalkan hal-hal yang dilarang. Apalagi ilmu dan tekad yang lebih spesifik ini sulit terbayang bisa dimiliki seseorang pada saat yang bersamaan. Bahkan pada setiap waktu hamba sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk mengaruniakan ilmu dan tekad ke dalam hatinya supaya dia bisa tetap berjalan di atas jalan yang lurus.”
“Memang benar bahwa seorang muslim telah memperoleh petunjuk global yang menerangkan bahwa Al Qur’an adalah haq, Rasul pun haq dan agama Islam adalah benar. Anggapan itu memang benar. Akan tetapi petunjuk yang masih bersifat global ini belumlah cukup baginya apabila dia tidak mendapatkan petunjuk yang lebih rinci dalam menyikapi segala perkara juz’iyaat yang diperintahkan kepadanya dan dilarang darinya yang mana mayoritas akal manusia mengalami kebingungan dalam hal itu, sampai-sampai hawa nafsu dan syahwat mengalahkan diri mereka dikarenakan hawa nafsu dan syahwat itu telah mendominasi akal-akal mereka.”
“Pada asalnya manusia itu tercipta sebagai makhluk yang suka berbuat zalim lagi bodoh. Sehingga sejak dari permulaan manusia itu memang tidak punya ilmu dan cenderung melakukan hal-hal yang disenangi oleh hawa nafsunya yang buruk. Oleh sebab itu dia selalu membutuhkan ilmu yang lebih rinci untuk bisa mengikis kebodohan dirinya. Selain itu dia juga memerlukan sikap adil dalam mengendalikan rasa cinta dan benci, dalam mengendalikan ridha dan marah, dalam mengendalikan diri untuk melakukan dan meninggalkan sesuatu, dalam mengendalikan diri untuk memberi atau tidak memberi kepada orang, dalam hal makan dan minumnya, dalam kondisi tidur dan terjaga. Maka segala sesuatu yang hendak diucapkan atau dilakukannya membutuhkan ilmu yang bisa menyingkap kejahilannya dan sikap adil yang dapat menyingkirkan sifat zalimnya. Apabila Allah tidak menganugerahkan kepadanya ilmu serta sikap adil yang lebih rinci -sebab jika tidak demikian- maka di dalam dirinya tetap akan tersisa sifat bodoh dan zalim yang akan menyeretnya keluar dari jalan yang lurus.
Allah ta’ala berfirman terhadap Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesudah terjadinya perjanjian Hudaibiyah dan Bai’atur Ridwan,
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata.” hingga firman-Nya,”Dan Allah menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Al-Fath [48]: 1-2)
Kalau keadaan beliau di akhir hidupnya atau menjelang wafatnya saja seperti ini (tetap memerlukan hidayah-pent) lalu bagaimanakah lagi keadaan orang selain beliau ?” Selesai ucapan Ibnu Taimiyah.
DUA MACAM HIDAYAH
Hidayah itu ada dua macam: hidayah berupa keterangan (hidayatul irsyad wal bayan) dan hidayah berupa pertolongan (hidayatut taufiq wal ilham). Kedua macam hidayah ini bisa dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa. Adapun selain mereka hanya mendapatkan hidayatul bayan saja. Artinya mereka tidak mendapatkan taufiq dari Allah untuk mengamalkan ilmu dan petunjuk yang sampai kepada dirinya. Padahal, hidayatul bayan tanpa disertai taufiq untuk beramal bukanlah petunjuk yang hakiki dan sempurna.
Maka wajarlah jika Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Seorang ‘alim (orang yang berilmu) itu masih dianggap jahil (bodoh) selama dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”
BERJALAN MENUJU DAN DI ATAS JALAN YANG LURUS
Setelah mengemukakan bahwa hidayah yang dimaksud oleh ayat ‘Ihdinash shirathal mustaqim’ ada 2: ila shirath (menuju jalan yang lurus) dan fi shirath (di atas jalan yang lurus) Syaikh As Sa’di mengatakan, “Hidayah ‘ila shirath’ yaitu berpegang teguh dengan agama Islam dan meninggalkan semua agama yang lain. Sedangkan hidayah ‘fi shirath’ yaitu mencakup petunjuk untuk menggapai semua rincian ajaran agama dengan cara mengilmui sekaligus mengamalkannya. Maka doa ini termasuk doa yang paling lengkap dan paling bermanfaat bagi hamba. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk berdoa dengan doa ini di dalam setiap raka’at shalatnya dikarenakan begitu mendesaknya kebutuhan dirinya terhadap hal itu.”
HAKEKAT JALAN YANG LURUS
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Maimun bin Mihran dari Ibnu ‘Abbas bahwa makna shirathal mustaqim adalah Islam, tafsiran serupa dikatakan oleh beberapa orang sahabat yang lain. Sedangkan menurut Mujahid yang dimaksud dengan shirathal mustaqim adalah kebenaran (lihat Tafsir Ibnu Katsir, I/36).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.”
Syaikhul Islam mengatakan, “…Sesungguhnya hakekat jalan yang lurus itu adalah seorang hamba melakukan perintah Allah yang tepat di setiap waktu yang dijalaninya dengan mengilmui dan mengamalkannya (Majmu’ Fatawa, Islamspirit.com)

MENYIRAMI HATI DENGAN HIDAYAH AL QUR’AN
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar menunjukkan kepada yang paling lurus.” (QS. Al-Israa’ [17]: 9)
Syaikh As Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa Kitab Suci ini (al-Qur’an) menjadi penuntun bagi umat manusia dalam mengarungi segenap problematika yang ada. Al-Qur’an senantiasa mengarahkan kepada urusan yang terbaik dan terlurus. Maka dari itu sudah semestinya kita berupaya menyibak makna-makna Kalamullah sebagaimana para sahabat dahulu. Apabila mereka membaca sepuluh ayat atau kurang lebih dari itu maka mereka tidak akan melewatinya kecuali setelah memahami kandungan iman, ilmu, dan amal yang tersimpan di dalamnya. Sehingga dengan metode inilah mereka bisa menerapkan ayat-ayat tersebut dalam menyikapi berbagai macam kenyataan yang muncul. Dan dengan cara inilah mereka akan memiliki keyakinan yang mantap terhadap berita-berita yang terkandung di dalamnya. Dengan cara inilah mereka bisa tunduk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, mereka akan bisa menempatkan segala macam realita dan persoalan yang terjadi pada diri mereka serta orang lain dalam timbangan ayat-ayat tersebut dalam rangka menilai : sudahkah mereka melaksanakan kandungannya dengan baik, ataukah mereka justru lalai dan mengabaikannya? Dan dengan cara mentadabburi ayat inilah mereka akan mengerti bagaimana kiat untuk bisa tetap tegar, kokoh, dan kuat dalam menjalani segala macam urusan yang mengundang kemanfaatan, dan juga untuk mewujudkan kembali kebahagiaan yang telah hilang atau menyusut dalam kehidupannya. Dengan cara mentadabburi ayat semacam inilah mereka akan mengetahui bagaimana cara untuk membebaskan diri dari segala marabahaya yang mencekam mereka. Dengan cara inilah mereka bisa memetik hidayah dari berbagai macam ilmu yang terkandung di dalam Al Qur’an, berakhlaq dan berperilaku sebagaimana yang dituntunkan olehnya. Sebab mereka menyadari bahwa ayat-ayat al-Qur’an itu ditujukan untuk mereka. Sehingga merekapun tertuntut untuk memahami dan mengamalkan isi ajarannya. Demikianlah makna dari keterangan Syaikh As Sa’di.


Saterdag 25 Mei 2013

DAPATKAN PENGHASILAN DENGAN CHITIKA

sebenarnya untuk mendapatkan uang atau pendapatan dari internet sangatlah banyak caranya. Apalagi kalau kita cari di google banyak peluang untuk mendapatkan penghasilan, namun tentunya harus pandai-pandai memilahnya karena banyak bisnis internet yang hanya janji belaka ujung-ujungnya Scam/penipu.



Peluang-peluang mendapatkan uang melalui blog internet diantarnya bisnis pengiklanan seperti Google Adsense, chitika, dsb. Sebagaimana yang sudah kita tahu bahwa dalam dunia pengiklanan (program PPC) google adsense masih pilihan utama, namun GA sedikit agak sulit dibanding PPC lainnya untuk diterima sebagai publisher. Oleh karena itu saya memberikan alternatif google adsense yang tidak kalah hebatnya yaitu Chitika. Sobat bisa baca selengkapnya tentang chtika di Pengertian Manfaat dan Chitika.

Kenapa saya bilang bisa mendapatkan penghasilan dari blog melalui program PPC chitika, karena saya sendiri sudah ada pengalaman di chitika dan sudah beberapa kali di bayar ke paypal. Pilihan jatuh ke chitika sebagai alternatif terbaik adsense dikarenakan chitika memiliki minamal payout/pembayaran hanya 10$ berbeda dengan Google Adsense yang minimal 100$ dan dikirim melalui cek tidak ada opsi pembayaran paypal. Apalagi chitika sudah support di blog bahasa Indonesia (dalam artian diizinkan dipasang di Blog Indonesia walapun tidak ada advertiser Indonesia), namun tetap bisa mendapatkan penghasilan. Blog saya saja yang waktu itu hanya bervisitor 1K bisa mendapatkan 10$ lebih dari chitika apalagi kalau sobat PutraKomputer.Com yang memiliki visitor  lebih besar.

Update terbaru pada tahun 2013 ini pendaftaran untuk blog Indoneisa sudah bisa dan mudah diterima, sudah ada beberapa sobat blogger yang hanya memiliki pengunjung blog 200an bahkan kurang bisa diterima dengan mudah di PPC ini. Dan lagi untuk proses pendaftaran sekarang

KLIK IKON CHITIKA di blog ini untuk mendaftar



Vrydag 24 Mei 2013

RASULULLAH DAN ANAK YATIM


Siang itu, di salah satu sudut Kota Madinah, sejumlah anak sedang asyik bermain. Semuanya mengenakan pakaian baru dan sangat gembira. Hari itu bertepatan dengan Idul Fitri. Di belakangnya, seorang anak tampak bersedih.


Seorang lelaki dengan penuh saksama memerhatikan mereka, tak terkecuali anak yang bersedih itu. Lelaki ini pun mendekatinya, kemudian bertanya, “Wahai ananda, mengapa engkau tak bermain seperti teman-temanmu yang lainnya?” Dengan berurai air mata, ia menjawab, “Wahai tuan, saya sangat sedih. Teman-teman saya gembira memakai pakaian baru, dan saya tak punya siapa-siapa untuk membeli pakaian baru.”



Lelaki ini kembali bertanya, “Kemanakah orang tuamu?” Anak kecil ini menuturkan ayahnya telah syahid karena ikut berperang bersama Rasulullah. Sedangkan ibunya menikah lagi, sedangkan semua harta ayahnya dibawa serta, dan ayah tirinya telah mengusirnya dari rumah.
Lelaki ini pun kemudian memeluk dan membelainya. “Wahai ananda, mau engkau kalau saya menjadi ayahmu, Aisyah sebagai ibumu, dan Fatimah jadi saudarimu?” Anak kecil itu pun tampak sangat gembira. Lelaki itu lalu membawa anak itu ke rumahnya, dan memberikan pakaian yang layak untuknya.



Beberapa saat kemudian, anak itu kembali menemui teman-temannya. Ia tampak sangat bahagia dengan pakaian yang lebih baru. Menyaksikan hal itu, teman-teman sebaya heran dan bertanya-tanya. “Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi sekarang aku bahagia, karena Rasulullah SAW menjadi ayahku. Aisyah ibuku, Ali adalah pamanku dan Fatimah saudariku. Bagaimana aku tak bahagia,” ujarnya.



Setelah mendengarkan perubahan itu, giliran teman-temannya yang bersedih. Mereka iri dengan anak itu, karena kini lelaki yang membawanya telah menjadi orang tua asuhnya yang tak lain adalah Rasulullah SAW.



Ketika Rasulullah Muhammad Shallallahu Alayhi wassalam wafat, anak yatim yang beliau asuh selama beliau hidup,  kembali menangis dan bersimpuh di atas pusara Rasullulah dengan berlinang air mata. “Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada. Apakah aku harus hidup sebatangkara lagi?”

Mendengar hal itu, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq menghampirinya sambil membujuk dan memeluknya. “Akulah yang akan menjadi pengganti ayahmu yang sudah tiada.” (Diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA.)



Kisah ini memberikan pelajaran bahwa menyantuni, memelihara, dan mengasuh anak yatim merupakan tanggung jawab kita semua. Kita berkewajiban untuk memberinya makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak, serta pendidikan yang memadai hingga mereka dewasa. Rasulullah SAW adalah teladan umat manusia. Beliau sangat mengasihi dan menyayangi anak-anak yatim. Dalam salah satu sabdanya, Rasul menjelaskan, bahwa kedudukan orang yang memuliakan, menyantuni dan mengasihi anak yatim, akan mendapatkan surga yang jaraknya bagaikan jari telunjuk dan jari tengah.



Rasul SAW sangat membenci orang-orang yang menelantarkan anak yatim. Dalam Alquran, Allah SWT mengecam orang-orang yang suka menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan fakir miskin. Allah menyebut mereka itu sebagai pendusta agama. (QS al-Ma’un [107]: 1-7).

Wallahu a’lam.

Mari Bantu Yayasan Darul Aytam dengan menyalurkan Zakat Infak dan Shadaqah Anda ke 

Rekening.Bank Mandiri No. Rek.1260004993787 An.Chuswatun Hassanah qq Yayasan Darul Aytam.


BNI No Rek. 273401364 an Drs.Setiawan qq.Yayasan Darul Aytam.

BCA 7650412197 An. Drs.Setiawan qq. Yayasan Darul Aytam. 

Bagi Wakif di Malaysia sila transfer ke account 160018582289 Maybank account atas nama Suzana Mohd Ali.

MENYANTUNI ANAK YATIM

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً
Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya[1].
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim, sehingga imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim.
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:
  • Makna hadits ini: orang yang menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[2].
  • Arti “menanggung anak yatim” adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar[3].
  • Yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak itu mencapai usia dewasa[4].
  • Keutamaan dalam hadits ini belaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari harta orang itu sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu[5].
  • Demikian pula, keutamaan ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim yang punya hubungan keluarga dengannya atau anak yatim yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengannya[6].
  • Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan mengasuh anak yatim, yang ini sering terjadi dalam kasus “anak angkat”, karena ketidakpahaman sebagian dari kaum muslimin terhadap hukum-hukum dalam syariat Islam, di antaranya:
1. Larangan menisbatkan anak angkat/anak asuh kepada selain ayah kandungnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{ادْعُوهُمْ لِآَبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آَبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ}
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak (kandung) mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu” (QS al-Ahzaab: 5).
2. Anak angkat/anak asuh tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua yang mengasuhnya, berbeda dengan kebiasaan di zaman Jahiliyah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung yang berhak mendapatkan warisan ketika orang tua angkatnya meninggal dunia[7].
3. Anak angkat/anak asuh bukanlah mahram[8], sehingga wajib bagi orang tua yang mengasuhnya maupun anak-anak kandung mereka untuk memakai hijab yang menutupi aurat di depan anak tersebut, sebagaimana ketika mereka di depan orang lain yang bukan mahram, berbeda dengan kebiasaan di masa Jahiliyah.
 وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين













[1] HSR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).
[2] Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (14/41) dan “Tuhfatul ahwadzi” (6/39).
[3] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (18/113).
[4] Lihat kitab “an-Nihaayah fi gariibil hadiitsi wal atsar” (5/689).
[5] Lihat kitab “Syarhu shahiihi Muslim” (18/113) dan “Faidhul Qadiir” (3/49).
[6] Ibid.
[7] Sebagaimana dalam HSR al-Bukhari (no. 3778), lihat juga kitab “Tafsir al-Qurthubi” (14/119).
[8] Mahram adalah orang yang tidak halal untuk dinikahi selamanya dengan sebab yang mubah (diperbolehkan dalam agama). Lihat kitab “Fathul Baari” (4/77).
  • Mari Bantu Yayasan Darul Aytam dengan menyalurkan Zakat Infak dan Shadaqah Anda ke Rekening.Bank Mandiri No. Rek.1260004993787 An.Chuswatun Hassanah qq Yayasan Darul Aytam.
    BNI No Rek. 273401364 an Drs.Setiawan qq.Yayasan Darul Aytam.
    BCA 7650412197 An. Drs.Setiawan qq. Yayasan Darul Aytam
    Bagi Wakif di Malaysia sila transfer ke account 160018582289 maybank account atas nama Suzana Mohd Ali