Vrydag 21 Junie 2013

RASULULLAH SEBAGAI PENDIDIK

Selain sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad Saw adalah seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik terbukti Rasulullah telah berhasil mengubah bangsa Arab yang bertabiat kasar menjadi rahib di malam hari, dan para penunggang kuda yang tangguh di siang harinya. Mereka satu sama lain saling mencintai, seperti kecintaan terhadap diri mereka sendiri. Mengutamakan orang lain melebihi dirinya, meski mereka sangat membutuhkannya. Sampai-sampai lawan dan kawan memberikan pengakuan atas perilaku agung mereka. Begitu juga Allah Swt, Dzat Yang Menciptakan mereka, telah menyematkan gelar “umat terbaik” yang dilahirkan untuk manusia; mereka senantiasa menegakkan kemakrufan, mencegah kemunkaran dan beriman kepada Alla Swt.

Kesuksesan Rasulullah dalam mendidik bangsa Arab, selain dengan strategi pendidikan yang jitu, tentu tidak lepas dari sifat-sifat teladan beliau sebagai seorang pendidik. Profesor Doktor Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, dalam kitabnya, “Dirasah Tahliliyah li Syakhsiyyah ar-Rasul Muhammad”, menjelaskan setidaknya ada delapan sifat Rasulullah yang harus jadi teladan para pendidik agar sukses dalam mendidik masyarakat.

Pertama, Kasih Sayang

Sifat ini wajib dimiliki oleh setiap pendidik. Karenanya, orang yang hatinya keras, tidak layak menjadi pendidik. Sebab, kasih sayang ini  merupakan perasaan sensitif yang secara otomatis bisa mendorong pendidik untuk tidak suka meringankan beban orang yang dididiknya.

Ketika membicarakan sifat-sifat Rasulullah saw, kita akan menyaksikan, bagaimana beliau memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak kecil di belakang shaf (barisan), karena kasih sayang beliau kepada ibunya yang merasakan kepedihan tangis anaknya.

Kita juga bisa menyaksikan bagaimana beliau telah menerima penganiayaan orang-orang musyrik Makkah, dan di Thaif pun beliau mendapatkan hal yang sama, ketika beliau didatangi malaikat penunggu gunung agar diperintahkan untuk menghancur leburkan suku Tsaqif, yang telah menghina dan menganiaya beliau, maka perasaan kasih sayang yang memenuhi kalbu beliau, sang pendidik agung itu pun tergerak, kemudian beliau mengubah adzab dengan doa untuk mereka, “Semoga Allah melahirkan dari generasi mereka, orang yang menyembah-Nya.”
Anas bin Malik juga pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang begitu menyayangi keluarganya, melebihi Rasulullah saw.”

Kedua, Sabar


Sabar adalah bekal setiap pendidik. Setiap pendidik yang tidak berbekal kesabaran, ibarat musafir yang melakukan perjalanan tanpa bekal. Bisa jadi dia akan celaka, atau kembali.

Jika kita menelusuri biografi sang pendidik agung, Nabi saw ini, kita akan melihat bahwa beliau merupakan lambang kesabaran yang patut dikibarkan, sabar terhadap penganiayaan kaumnya yang dilakukan terhadap tubuh beliau, juga penyiksaan mereka terhadap nyawa beliau, sampai urusan (yang beliau emban) itu nampak jelas di hadapan mereka, dan kecemerlangan tujuan beliau pun terlihat dengan jelas di depan mata mereka. Maka, kebencian mereka kepada beliau pun berubah menjadi cinta, dan penganiayaan mereka berubah menjadi kasih sayang.

Ketiga, Cerdas

Seorang pendidik harus pandai dan cerdas (fathanah), sehingga dia bisa menganalisis masalah obyek didiknya yang sangat rumit. Jika masalah tersebut baik, dia bisa menjadikannya sebagai cara terbaik bagi obyek didik tersebut untuk mengembangkannya. Dan jika masalah tersebut buruk, dia bisa memilih cara terbaik untuk menyelesaikannya. Dia juga bisa menganalisis apa yang relevan dan tidak dengan obyek didiknya. Dia juga bisa memahami emosi jiwanya dengan melihat raut mukanya. Juga bisa memahami perbedaan-perbedaan pribadi di antara mereka yang begitu rumit. Sebab, tugasnya adalah menyelami relung  jiwanya melalui perbedaan-perbedaan tersebut, atau memanfaatkannya dengan maksimal untuk mengarahkan tiap individu pada hal-hal yang bisa diraihnya.

Rasulullah saw sebagai utusan Allah swt telah dihujani oleh Allah dengan sifat kecerdasan sebagai fitrah asal beliau. Seluruh analisis yang menganalisis kepribadian Rasulullah saw dan para ulama ushuluddin telah sepakat bahwa Rasulullah saw secara pribadi, serta Rasul-rasul yang lain mempunyai sifat cerdas.

Keempat, Tawadhu


Seorang pendidik harus bersikap tawadhu kepada obyek didiknya. Sebab, kesombongannya hanya akan menambah jarak antara dirinya dengan obyek didiknya. Dan, ketika jarak tersebut semakin renggang, maka pengaruhnya akan hilang.

Rasulullah saw – sebagai penghulu para pendidik – adalah orang yang paling tawadhu, hingga begitu tawadhunya sampai ketika beliau bertemu anak-anak, beliaulah yang terlebih dulu mengucapkan salam kepada mereka. Hingga ketika salah seorang budak perempuan Madinah meraih tangan Rasulullah saw,  dia pun bisa menggapainya dengan sesuka hatinya. Bahkan, ketika beliau bertemu seorang lelaki, beliau pun menyalaminya, dan tidak melepaskan tangan beliau sampai lelaki itu melepaskan tangannya. Beliau juga tidak memalingkan mukanya sampai lelaki itu memalingkan mukanya

CARA MENGATASI CEMBURU DALAM ISLAM

Cemburu Menurut Islam

Wajib hukumnya bagi suami memiliki rasa cemburu kepada istrinya. Nabi bersabda: “Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya,wanita yang menyerupai pria dan dayuts.” (HR. Nasa’i, Hakim, Baihaqi dan Ahmad).  Dayuts adalah suami/kepala keluarga yang tidak cemburu terhadap istrinya. 

Suami dituntut untuk memiliki cemburu kepada istrinya agar terjaga rasa malu dan kemuliaannya. Cemburu ini merupakan fitrah manusia dan termasuk akhlaq mulia. Cemburu ini dapat menjaga dan melindungi harga diri dan keluarga dari tindakan melanggar syariat. Kerusakan akhlaq dan moral atas nama modernitas telah mengikis rasa cemburu ini. Suami tidak lagi sensitif dengan penampilan istri yang mencolok, busana yang tidak menutup aurat, istrinya digoda orang lain, istrinya berkhalwat dengan pria lain Akibatnya pintu perselingkuhan terbuka lebar hingga berujung pada kehancuran rumah tangga.

Sa’ad bin Ubadah ra berkata: “Seandainya aku melihat seorang pria bersama istriku, niscaya aku akan menebas pria itu dengan pedang." Nabi saw bersabda: “Apakah kalian merasa heran dengan cemburunya Sa`ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku” (HR Bukhari Muslim). 
"Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu'min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya" (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Kisah Cemburu Istri-Istri Nabi

Nabi sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu istri dan tidak menghukumnya selama dalam batas kewajaran. Aisyah berkata:“Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah seperti cemburuku kepada Khadijah, karena Rasulullah banyak menyebut dan menyanjungnya” (HR Bukhari Muslim). 
Aisyah berkata: “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”. Nabi menjawab, “Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku, dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah memberi rezeki kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain” (HR Ahmad).
Aisyah berkata dengan amarah akibat cemburu: “Allah telah menggantikan untukmu wanita yang lebih baik darinya”.  Rasulullah hanya menjawab, “Allah  tidak pernah menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya”.

Ketika Nabi berada di rumah seorang istrinya, istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan untuknya. Istrinyatersebut segera memukul tangan pelayan yang membawa piring makanan hingga terjatuh. Nabi pun mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu”.  Beliau lalu mengganti dengan piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya, sementara piring yang pecah disimpan. (HR Al Bukhari). 

Bila cemburu itu mendorong perbuatan yang diharamkan seperti mengghibah, maka Rasulullah tidak membiarkannya. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu (pendek)”.  Rasulullah berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya akan dapat mencemarinya” (HR Abu Dawud). 

Ketika mendapatkan Shafiyyah menangis Nabi bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?."  Shafiyyah menjawab, “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi”. Nabi berkata menghiburnya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi, pamanmu adalah seorang nabi, dan engkau adalah istri seorang nabi. Lalu bagaimana dia membanggakan dirinya terhadapmu?”.  Kemudian beliau menasihati, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah” (HR An Nasa’i).

Bahayanya Cemburu Buta (Berlebihan)

Rasulullah bersabda: “Rasa cemburu ada yang disukai Allah dan ada pula yang tidak disukai-Nya. Kecemburuan yang disukai Allah adalah yang disertai alasan yang benar. Sedangkan yang dibenci ialah yang tidak disertai alasan yang benar (cemburu buta).” (HR. Abu Daud).

Menurut Mu’awiyah terdapat tiga macam kemuliaan, yaitu sifat pemaaf, mampu menahan lapar dan tidak berlebihan dalam memiliki rasa cemburu buta, karena berlebihan itu merupakan hal melampaui batas dan merupakan suatu kezhaliman terhadap pasangannya. 

Ciri cemburu buta: memonitor pasangan setiap waktu (kemana, dengan siapa, sedang apa), tidak mau mengakui kesalahan, tidak tenang, ingin selalu diajak ke mana pun dan kapan pun, kasar (sering marah, berteriak, memukul, merusak barang).

Cemburu buta itu merugikan, menyiksa jiwa, merusak kehidupan rumah tangga, mendorong pelanggaran syariat, seperti banyak mengeluh, mencela, berprasangka buruk sehingga menuduh orang yang tidak bersalah, curiga terhadap sesuatu yang belum jelas dan pasti, rasa was-was yang berasal dari setan (QS. An-Naas:3-6), pembunuhan, bahkan kekafiran karena membenci ketentuan hukum yang Allah syariatkan.  Allah swt berfirman, “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada ketentuan (syariat) yang diturunkan Allah sehingga Allah membinasakan amal-amal mereka.” (QS. Muhammad: 9).

Tips Mengatasi Cemburu Buta

Penyebab timbulnya cemburu buta adalah: lemahnya iman dan lalai dari mengingat Allah swt, godaan provokasi setan, hati yang berpenyakit, hanya fokus pada kekurangan pasangan, rasa minder dan kurang percaya diri, kurang menjaga syariat yang berkaitan dengan pergaulan pria dan wanita. Bisa juga pengalaman masa lalu yang kurang perhatian dari orang terdekatnya, atau terlalu dimanja. Akibatnya, setelah menikah ingin mendapatkan perhatian yang berlebihan dari pasangannya.


Cara mengatasi cemburuan buta: bertakwa kepada Allah swt, tenangkan hati dengan zikrulloh, bersihkan jiwa dari cemburu buta, jauhi perilaku menyakiti hati pasangan, mengumpulkan pahala yang besar dalam bersabar mengendalikan cemburu, menjauhi pergaulan yang buruk, berprasangka baik (positif thinking), hitung semua kebaikan pasangan, bersikap qana’ah (menerima segala ketentuan Allah swt dengan lapang dada), selalu mengingat kematian dan hari akhirat, berdoa mohon pertolongan Allah swt, sibukkan diri dengan amal sholeh, bangun kepercayaan dan keterbukaan terhadap pasangan, telfon monitoring yang berkali-kali jawablah sekali saja dengan tegas dan lugas lalu matikan, saling memberikan pujian pada pasangan. Wallahu a’lam.

CARA MENGATASI STREES DALAM ISLAM

DALAM kehidupan moderen, stres menjadi pelengkap hidup. Banyak masalah dan sedikit solusi yang diketahui. Orang yang kurang kuat imannya, dapat melakukan bunuh diri. Orang yang kuat iman, tapi terlalu ambisi mencapai sesuatu, dapat mengalami stroke. Seorang dokter neorologi berkata, sekalipun tekanan darah tinggi, insya Allah tidak akan stroke, selama orangnya, tidak stres. Berarti stres pemicu utama lahirnya stroke yang banyak didera bangsa ini
.

Stres yang datang pada diri seseorang, banyak penyebabnya. Siswa yang tidak lulus ujian nasional, dapat stres. Orangtua yang mengurus anaknya mencari sekolah yang lebih tinggi, dapat stres. Pejabat yang terlalu sibuk, dapat stres. Rakyat kecil yang sukar mendapat makan, dapat stres. Calon Bupati yang mengeluarkan miliaran rupiah dalan pilkada, dapat stres, jika suara yang diharapkan, tidak seperti yang diprediksi. Alhasil, semua golongan dan status social, berpeluang stres. Laki-laki dan perempuan.

Mencegah:Menurut dokter neorologi, perasaan stress sering menjadi musuh dalam selimut.Perasaan ini datang tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Bila tidak, dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti jantung, darah tinggi dan stroke. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Menghindari stress ada baiknya dilakukan cara berikut:

Pertama, Mengeluarkan energi positif, yaitu optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Ketahuilah bahwa setiap rencana, ada hambatan Tapi ada juga solusi.Sebab itu, harus bersikap lebih fleksibel, sehingga dapat menikmati hidup.

Kedua, menjaga kesehatan. Dengan cara olahraga yang teratur, tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Olahraga dapat membuat manusia nyaman. Makanan bergizi membangkitkan vitalitas hidup. Sebab itu Islam memerintahkan “ Mengkonsumsi halalan tayibah atau yang bergizi.
.
Ketiga, banyak minum air putih, terutama saat diambang kemarahan. Air putih, dapat menenangkan perasaan, dan berpikir lebih jernih. Rasulullah menganjurkan kalau marah, hendaklah berwudu dan mendinginkan badan (HR.Muslim).

Keempat, meluangkan waktu sedikit, untuk setiap minggu, keluar dari rutinitas, dengan berkumpul bersama keluarga. Atau berkunjung kepada teman-teman. Nabi mengajarkan Hubungkan silaturahim, sebab dapat menambah rezeki dan memperpanjang umur (HR.Muslim).

Kelima, meningkatkan rasa humor. Secara klinis humor dapat mengatasi stress. Alhamdu lillah kini sudah muncul kelompok-kelompok di TV yang menjajakan humor 5 sampai 1O menit untuk relaksi. Jangan sampai anda lupa meluangkan waktu biar sebentar ( Kompas 26/7). Penulis teringat seorang Kiyai di Pesantren tahun 5O-an, sering mendatangi suatu desa yang berjarask 15 Kilometer dari kota dan membayar pemuda-pemuda yang pintar membawakan cerita yang humoris.

Menurut Al-Quran ?.Menurut Al-Quran, kelima cara yang ditawarkan kesehatan diatas, tidak ada yang bertentangan dengan Al-Quran. . Namun Al-Quran lebih memfokuskan terutama kepada dua hal utama dimana Al-Quran sebagai Syifa’ (Penawar) :

Sabar :Jika stress menghadapi masalah yang sukar diputuskan “ salah atau benarnya sesuatu “ maka Al-Quran memberi petunjuk “ FA SHABRUN JAMIL “ ( Maka bersabar itu lebih indah ). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan. (QS. Yusuf 18 ).

Ucapan itu disampaikan Nabi Ya’kub, ketika anak-anaknya datang membawa kemeja yang berlumuran darah kepunyaan Yusuf, sebagai bukti bahwa ia telah diterkam binatang buas. Daripada stress, karena darahnya meragukan, Nabi Ya’kub berkata “ Sabar itu lebih indah.” Demikian Sitti Maryam, ketika dituduh melacur karena melahirkan anak (Isa) tanpa ayah, juga sabar, untuk mengobati stres yang berkepanjangan. Bahkan Aisyah, isteri Rasul, ketika digossip, juga menjadikan Sabar sebagai pengobatan dalam stress.

Zikrullah:Mengingat Allah (Zikrullah) termasuk dapat mengatasi stres. Dengan mengingat dan mengembalikan segalanya dari dan untuk Allah, maka stres akan dapat diatasi. . Sesuai Al-Quran, “ TATHMAINN AL-QULUB “ ( Mengingat Allah, hati akan tenang ) ( QS. Al-Raad 28 ).

Menurut ulama Tafsir, Yang masuk Zikrullah, adalah melakukan salat, membaca Al-Quran dan langsung menjebut Lailaha ilallah sebanyak-bamnyaknya.

Diperkuat Al-Quran dengan ayat “ Dan carilah pertolongan, dengan berlaku Sabar dan mengerjakan Salat ( QS.2: 45).

Menurut Huzaifah, bila Nabi bersedih atau menghadapi masalah, Beliau langsung melakukan salat, sekalipun, sedang dalam perjalanan. Memperbanyak Zikrullah berupa salat sunnat, atau membaca Al-Quran, atau istigfar, atau membaca Lailaha Ilallah.
Istigfar yang sering dibaca Rasul “ Allahumma Anta rabbi. Lailaha illa Anta. Khalaqtani waana abduKa. Wa ana ala ahdiKa. Wa wa’diKa mastata’tu. Audzu biKa, min syarri ma shana’tu. Abuu laKa bini’ mati alayya. Waabuu bidzanbi. Fagfirli. fainnahu la yagfir al- dzunuba illa Anta.( Al-Azkar :347 ).

Disamping kedua hal tersebut, juga yang dapat mengatasi stres, adalah akidah dengan meyakini kebenaran ayat Al-Quran yang berbunyi “ INNA MA’AL USRI YUSRA ( Sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Setelah kesulitan, ada kemudahan).. ( 94: 5-6 ).( Disebutkan dua kali ).

Menurut ulama Tafsir, karena kata kesulitan (Al-usri ), menggunakan “al ” dan kemudahan (Yusra) tidak menggunakan “al “ , itu artinya kesulitan itu cuma satu macam, tapi ada beberapa solusi kemudahan. Berarti dua alternative kemudahan . dalam satu kesulitan. Ada dua. Misalnya berkonsultasi dengan dokter mencari pengobatan lahir dan batin ialah menggunakan petunjuk Al-Quiran sebagai Syifa’.
. .

Alhasil, dari uraian singkat diatas, dipahami mengatasi stres sesuai Al-Quran disamping mencari solusi berupa pengobatan lahir, juga diperlukan pengobatan batin, yaitu meyakini kesempurnaan Tuhan, dan meyakini kekurangan manusia, serta kaifiatnya, banyak bersabar, salat, istigfar dan zikir.Praktek Rasul SAW dalam mencari penyegaran dan menghilangkan stres, diantaranmya dianjurkan kepada umatnya berpuasa dan bercampur isteri dua kali seminggu.

Woensdag 19 Junie 2013

PERLUNYA NASIHAT DALAM KEHIDUPAN KITA

KEHIDUPAN yang kita lalui tidak selamanya mulus seperti yang kita harapkan. Ada saatnya kita diuji dengan berbagai persoalan hidup di mana pangkat, gelar, kedudukan, dan harta yang kita banggakan bukannya menyelesaikan masalah, malah sering menjadi sumber utamanya.
Saat dihadapkan pada persoalan hidup, ada di antara kita yang mampu melaluinya dengan indah, namun tak sedikit yang kecewa, putusa asa, bahkan berakhir untuk selama-lamanya.
Di sinilah nasihat sangat berperan bagi jiwa-jiwa yang resah. Ia berfungsi untuk pengendali diri, membangun harapan, menguatkan motivasi, optimisme, dan azam.
Setinggi apapun pangkat, pendidikan, dan kedudukan kita nasihat selalu diperlukan. Karena nasihat merupakan sumber energi hati. Hati yang ikhlas dinasihati akan menyebabkannya tumbuh hidup. Hati yang hidup adalah hati yang mengenal Allah Ta’ala dan membawa pemiliknya mampu mengambil pelajaran dari setiap peringatan. Dan peringatan itu sangat bermanfaat bagi manusia, terutama yang takut kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:


فَذَكِّرْ إِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَى

سَيَذَّكَّرُ مَن يَخْشَى

وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى


“Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfa'at. Orang-orang yang takut (kepada Allah) akan mampu mengambil pelajaran. Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhi.” (QS Al A’la: 9-11).

Dan masrilah saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran adalah kunci memperoleh keberuntungan (lihat QS Al ‘Asr). Ada beberapa manfaat nasihat.

Pertama, menguatkan akal pikiran. Allah Ta’ala menilai orang berakal adalah orang yang banyak mendengar dan mengikuti nasihat kebenaran yang diketahuinya. Dan setiap kebenaran itu timbangannya adalah al-Quran. Allah Ta’ala berfirman: Mereka yang mendengarkan perkataan (nasihat) lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (al-Quran). Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS Az Zumar: 18). Akal yang tidak tunduk kepada al-Quran akan lemah, bahkan sesat dalam pemikiran.

Kedua, menguatkan hati dan iman. Hati kita senantiasa berbolak balik. Hal itu dapat dilihat dari perubahan sikap dan tingkah laku kita dalam kehidupan. Ada saatnya keimanan kita meningkat dengan ketaatan kepada Allah dan menurun dengan bermaksiat kepada-Nya. Oleh sebab itu, hati tempatnya iman harus rutin menerima nasihat agar ia selalu ingat (kepada Allah) dan kuat dalam menjalani kehidupan.
Siapapun yang menginginkan kebaikan dalam hidupnya akan meluangkan waktu—bukan mencari waktu luang—untuk memperhatikan hati. Ia senantiasa melabuhkan diri untuk duduk di majlis ta’lim mendengarkan nasihat orang-orang ‘alim. Bersimpuh di hadapan al-Quran sang kitab penasihat kehidupan. Banyak mengingat kematian sang pemutus kenikmatan. Mencintai orang-orang yang mengingatkan kekurangan. Umar bin Khattab Ra berkata: “Orang yang kucintai adalah orang yang menunjukkan aibku.”

Ketiga, meningkatkan potensi dan merubah keadaan. Kualitas seseorang tidak ditentukan dari banyak bicara, lihai berdiplomasi, atau mahir berorasi, melainkan maksimal meningkatkan potensi diri dan selalu berhati-hati. Manusia terlahir unik dengan potensi yang berbeda.
Adakalanya manusia tidak menyadari potensi yang dimilikinya sehingga ketika diberitahu dan dinasihati ia baru menyadari.

Banyak orang mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dalam hidupnya, tatkala ia mampu menjadikan serpihan mozaik perkataan, kegagalan, keterpurukan, kemaksiatan, atau musibah yang dialami sebagai nasihat untuk memperbaiki diri. Karena nafsu yang dituruti tidak akan pernah memuaskan diri. Pada akhirnya akan sampai pada titik jenuh di mana hati hanya puas bila memenuhi panggilan nasihat Ilahi.
Oleh sebab itu, jangan pernah merasa kenyang dengan nasihat. Karena nasihat adalah kebutuhan untuk melakukan perubahan. Segala kejadian yang dialami dan ditolak oleh hati sesungguhnya nasihat yang dikirimkan Ilahi. Merasa tak butuh dengan nasihat dan tak mau mengambil pelajaran dari nasihat adalah tanda butanya mata, tulinya telinga, dan matinya hati.
Sungguh keras peringatan Allah Ta’ala bagi orang yang merasa kenyang dengan nasihat. Firman-Nya: Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi (QS. Ala’raaf: 179). Dalam ayat lain: Apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami (nasihat)? Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya (QS. Alfurqan: 44).

Dari siapapun nasihat datang, selama itu kebenaran, layak diambil jadi pelajaran. Suatu saat Al Ghazali pulang menuntut ilmu dan bangga memikul buku-buku catatannya yang banyak. Di tengah jalan ia dicegat oleh penyamun yang menyangka sedang membawa harta berharga. Al Ghazali berkata: “Buku-buku ini tidak bermanfaat bagi kalian, ini merupakan catatan ilmu pengetahuanku.” Salah seorang penyamun berkata, “Al ‘ilmu fis sudur walaisa fis sutur” (ilmu itu di dada (dihapalkan) bukan tertulis di kertas).

Kalimat nasihat inilah yang mengantarkan perubahan besar Imam Al Ghazali dalam memandang ilmu hingga ia digelar ”hujjatul Islam”.
Nasihat yang membangun diri kita adalah bukti yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai kita. Kejadian dan musibah yang ditolak oleh hati adalah nasihat peringatan dan cara Allah menunjukkan cinta-Nya agar kita kembali ke jalan-Nya. Tanpa ada nasihat, tidak ada cinta. Tak ada cinta, mustahil ada perhatian. Perhatian dan cinta adalah bukti, keberadaan diri kita masih dibutuhkan dan diharapkan. Oleh sebab itu, jangan pernah meremehkan sekecil apapun kejadian dan nasihat demi kebaikan kita

Siapkan Diri Menyambut Ramadhan

TAK terasa kita telah memasuki pertengan bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Setelah sekian lama berpisah, kini Ramadhan kembali akan hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, rahmat dan menuai pahala serta sarana menjadi orang yang muttaqin.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.


Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya. Bukan pula pergi ke pantai menjelang Ramadhan untuk rekreasi, makan-makan dan bermain-main.
Jadi, bagaimana sebenarnya cara kita menyambut Ramadhan? Apa yang mesti kita persiapkan dalam hal ini? Maka tulisan ini mencoba memberi jawaban dari pertanyaan tersebut. Menurut penulis, banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan menyambut  kedatangan Ramadhan, yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Subhanahu Wata’ala, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)
Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”.  Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban.
Sebagaimana Aisyah r.a  tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i  sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.
Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan  ibadah lainnya seperti wudhu, shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.

Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam.
Persiapan jiwa dan spiritual merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayatun nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya, minimal di bulan Sya’ban ini seperti memperbanyak puasa Sunnat.
Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Aisyah ra, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid r.a ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka hal itu tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkan maudhu’ (palsu). Oleh Sebab itu, Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).
Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).
Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”
Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Kelima, persiapan dana (finansial). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya terganggu. Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)
Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.

Menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para shahabat. Beliau juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah ra berkata, “menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain itu, banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam untuk memberi motivasi dan semangat kepada para sahabat dan umat Islam setelah mereka dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Mari kita bersiap menyambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan  mempersiapkan diri untuk beribadah dengan optimal. Selain itu kita berharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar ibadah kita diterima, tentu dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan dapat meraih berbagai keutamaannya

LAPORAN KEUANGAN MAJELIS DARUL AYTAM PER 19 JUNI 2013


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً
Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya
HR Imam Bukhari
                               
                              LAPORAN KEUANGAN MAJELIS DARUL AYTAM PER 19 JUNI 2013
   
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Santunan Yatim Tanggal 12 Juni 2013                  Rp. 1.000.000,-

SALDO                                                                          Rp.    400.000,-  


---------------------------------------------------------------------------------

PENERIMAAN
1. 18 JUNI 2013               NENENG                BANDUNG                      Rp.           250.000,-
2.                                       Hamba Allah        Johor, Malaysia           MYR                 100,-
3                                        Hamba Allah        Jakarta                           Rp           100.000,- 
4.                                       A.Wardani            Balikpapan                    Rp            200.000,-
5.                                       S.Mohd Ali            Kota Kinabalu               MYR                100,-  
6.                                       Hamba Allah        Depok                            Rp.           500.000,-
7.                                       Hamba Allah        Jakarta                          Rp.           200.000,- 
---------------------------------------------------------------------------------------------------


SALDO SEMENTARA Rp. 1.650.000,-

                                       MYR        200.   


Mari Bantu Yayasan Darul Aytam dengan menyalurkan Zakat Infak dan Shadaqah Anda ke Rekening.Bank Mandiri No. Rek.1260004993787 An.Chuswatun Hassanah 
qq Yayasan Darul Aytam.
BNI No Rek. 273401364 an Drs.Setiawan qq.Yayasan Darul Aytam.
BCA 7650412197 An. Drs.Setiawan qq. Yayasan Darul Aytam
Bagi Wakif di Malaysia sila transfer ke account 160018582289 maybank account atas nama Suzana Mohd Ali.

Dinsdag 18 Junie 2013

MENJADIKAN DIRI KUBURAN AIB SAUDARA MUSLIM KITA

Seburuk-buruk orang adalah yang selalu menyibukkan dirinya dengan menyebut-nyebut keburukan orang lain,” demikian pesan tabi‘in terkemuka, Ibnu Sirin, saat mendiagnosa penyakit hati yang banyak menjangkiti sebagian manusia, di antaranya para dai. Yakni sibuk mencari-cari aib orang lain dan lupa terhadap aib sendiri. Sebagai akibat dari lemahnya tarbiyah. Maka puncak perhatian dan pekerjaannya adalah mencari-cari kesalahan orang, membongkar, dan menyerangnya. Dia lupa bahwa setiap orang memiliki aib dan kesalahan. Tidak terkecuali dirinya sendiri.



Ini termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya yang menimpa seorang mukmin dan dai, sampai-sampai ia melihat dirinya begitu sempurna sementara orang dan dai lain diliputi banyak aib dan kekurangan. Ia lupa kalau Allah menghendaki kebaikan seseorang, dia akan disibukkan dengan aib dirinya sendiri untuk segera diperbaiki. Lalu ia sibuk dengan dirinya sendiri, membersihkannya, mentarbiyahnya, menjauhkannya dari segala sifat buruk.
يُبْصر أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيْهِ وَيَنْسَى الْجَذَعَ فِي عَيْنِهِ
 “Salah seorang melihat kotoran di matanya namun melupakan kotoran di matanya sendiri.”
Peribahasa Indonesia mengatakan, “Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tak nampak.”
Generasi terbaik, para sahabat dan tabi’in senantiasa terhubung hati mereka dengan Allah. Mereka sibuk dengan jiwa mereka sendiri, karena ia adalah musuh utama mereka. Seluruh perhatian mereka kerahkan untuk menghadapi jiwa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Mereka sadar betul bahwa mendidik jiwa mereka sendiri adalah kewajiban utama dan sarana efektif untuk menjaga istiqamah dalam ketaatan. Mereka juga paham hakikat dan tabiat jiwa itu. Seperti kata Al-Ajiri,
إِذَا أَطْمَعْتَهَا طَمَعَتْ، وَإِذَا آيَسْتَهَا أَيْسَتْ، وَإِذَا أَقْنَعْتَهَا قَنَعَتْ، وَإِذَا أَرْخَيْتَ لَهَا طَغَتْ، وَإِذَا فَوَّضْتَ لَهَا أَسَاءَتْ، وَإِذَا حَمَّلْتَهَا عَلَى أَمْرِ اللهِ صَلُحَتْ
“Jika kau membuatnya tamak, dia menjadi tamak. Jika kau buat putus asa, dia menjadi putus asa. Dan jika kau membuatnya menerima, dia akan menerima, jika kau abaikan, ia melampaui batas, jika kau serahkan urusan kepadanya, ia jahat, dan jika kau bawa kepada perintah Allah, dia menjadi baik.”
Seorang muslim biasa mempunyai kewajiban untuk mendidik jiwanya sedemikian rupa terhadap jiwanya dan tidak menelisik aib dan keburukan orang lain, Karen hal itu akan mengganggu ruhiyahnya dan istiqamahnya di jalan Allah, apatah lagi seorang dai dan murabbi, yang waktunya dilalui dalam belantara dakwah. Menyebarkan dakwah dan mengajak orang kepada petunjuk Allah. Menemui manusia mengulurkan tangan untuk membimbing mereka agar lebih dekat mengenali Rabb mereka. Tentu mereka lebih membutuhkan kemampuan mendidik jiwa mereka sendiri hingga bisa mendidik orang lain.
Ali ra. berkata,
مَنْ نَصَبَ نَفْسَهُ لِلنَّاسِ إمَاماً فَلْيَبْدَأ بِتَهْذِيْبِ نَفْسِهِ قَبْلَ تَهْذِيْبِ غَيْرِهِ، وَلْيَكُنْ تَهْذِيْبُهُ بِسِيْرَتِهِ قَبْلَ تَهْذِيْبِهِ بِلِسَانِهِ، وَمُعَلِّمُ نَفْسِهِ وَمُهَذِّبُهَا أَحَقُّ بِالإِجْلاَلِ مِنْ مُعَلِّمِ النَّاسِ وَمُهَذِّبُهُمْ
“Siapa menobatkan dirinya sebagi imam (pemimpin) bagi orang lain hendaknya ia memulai mendidik dirinya sebelum mendidik orang lain. Dan hendaknya ia mendidiknya dengan perbuatannya sebelum mendidik dengan lisannya. Seorang yang mengajari dirinya serta mendidiknya lebih patut dihormati ketimbang orang yang mengajarkan dan mendidik orang lain.”
Atsar ini bisa disimplikasikan dengan jargon tarbiyah,
اَصْلِحْ نَفْسَكَ وَادْعُ غَيْرَكَ
“Perbaiki dirimu dan berdakwahlah kepada orang lain.”
Betapa banyak orang yang menghabiskan waktu dan perhatiannya bukannya untuk mendidik jiwanya, namun untuk hal-hal mubah, bahkan syubuhat, atau na’uzu billah hal-hal haram. Seperti menyibukkan diri mengoreksi kesalahan saudaranya. Yang hal ini merupakan bunuh diri dalam kamus generasi terbaik. Allah berfirman,
“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadap kalian.” (An-Nisa’: 29)
Al-Fudhail bin ‘Iyyadh mengomentari ayat ini, “Janganlah kalian lalai terhadap diri kalian, sebab barangsiapa lalai terhadap dirinya berarti ia telah membunuh dirinya.”
Alangkah indahnya jika para dai memahami nilai-nilai tarbawi ini.
Imam Abu Hatim bin Hibban berkata, “Adalah wajib bagi orang berakal untuk senantiasa menjaga keselamatan dirinya dengan cara tidak mencari-cari kesalahan orang lain dan sibuk memperbaiki kesalahan dirinya sendiri. Sebab orang yang sibuk dengan kesalahannya ketimbang kesalahan orang lain badannya santai dan hatinya tidak capek. Setiap kali ia melihat kesalahannya sendiri maka menjadi ringanlah kesalahan yang dilihatnya pada saudaranya. Sedangkan orang yang sibuk dengan kesalahan orang lain ketimbang kesalahan dirinya sendiri buta hatinya dan lelah badannya lalu sulit baginya untuk meninggalkan kesalahannya dirinya.”
Saudaramu adalah cerminmu
Sebagaimana jiwamu memerlukan perhatian karena kekurangannya, aibnya, kecenderungannya menjauh dari petunjuk, dan penentangannya kepada amal ketaatan. Jiwa orang lain pun demikian halnya. Semua berada dalam proses pergulatan dengan jiwanya masing. Kalah dan menang adalah konsekuensi dari pergulatan itu. Adakalanya fitrah mendominasi dan adakalanya nafsu yang mengendalikan. Di saat itu, maka sifat-sifat buruk bersemi dengan suburnya bagai jamur di musim hujan.
Adakah yang selamat dan bersih dari kekurangan dan kesalahan? Hanya Rasulullah saw yang dijaga (ma’shum) dari segala kesalahan. Maka jika kau melihat ada kesalahan pada diri saudaramu, sesungguhnya kesalahan itu juga ada pada dirimu. Jika ada aib, cacat, kemalasan, bahkan kemaksiatan, sesungguhnya –betapapun- kadarnya, itu semua ada pada dirimu. Dari Anas bin Malik Rasulullah saw.
اَلْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin (yang lain).” (Bazzar dan Thabrani)
Jika Anda bercermin, lalu di balik cermin itu Anda melihat ada kotoran atau apapun yang Anda tidak suka karena akan mengganggu penampilan Anda, maka dengan berbagai upaya Anda lakukan untuk menghilangkannya atau menutupinya, membersihkannya atau menghiasinya agar nampak indah Anda pandang sendiri dan indah pula dipandang orang lain. Dan Anda akan malu tersipu jika ternyata ada kotoran dan aib yang belum dibersihkan lalu dilihat orang lain.
Dan Anda adalah cermin bagi saudaramu. Saudaramu adalah cermin bagi Anda. Kotoran dan aib yang Anda lihat pada diri saudaramu itu sesungguhnya merupakan pantulan dari kotoran dan aib yang ada pada dirimu. Seperti halnya Anda tidak suka apabila aibmu dilihat orang, seperti itu pula saudaramu. Maka menyembunyikan aib saudara –kalau tidak mampu membersihkannya- adalah keniscayaan dalam pergaulan ukhuwah. Karena pada konteks ini, taka da bedanya antara Anda dan saudara yang lain. Seperti tak ada bedanya antara Anda yang sedang Anda lihat di balik cermin itu, dan setiap mukmin mencintai untuk saudaranya seperti dia mencintai untuk dirinya sendiri.
Keutamaan menutupi aib saudara
Di antara kemurahan Allah adalah Dia senang kalau tidak ada hamba-Nya yang melakukan dosa dan kesalahan. Kalau seorang hamba tidak kuasa kecuali melakukannya, Allah senang kalau hamba itu menutupi aurat dan aibnya sendiri lalu bertaubat dan memohon ampunan kepada-Nya.
Allah bersifat Sattir.
وعَنْ عَطَاءٍ عَنْ يَعْلَى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلًا يَغْتَسِلُ بِالْبَرَازِ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ
Dari Atha’ dari Ya’la bahwa Rasulullah saw. melihat seseorang mandi di tempat terbuka. Lalu beliau naik mimbar kemudian memuji Allah dan bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla itu Mahasantun, Maha Pemalu, dan Maha Menutupi cinta kepada rasa malu dan menutupi. Maka jika salah seorang kalian mandi hendaklah bersembunyi.” (Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan Baihaqi).
Allah Menutupi Aibnya
Menutupi aib dan aurat orang beriman adalah kewajiban. Barangsiapa menutupi aurat dan aib saudaranya dengan ikhlas dan cinta karena Allah, Allah akan menutupi aib dan kesalahannya di dunia dan akhirat. Itu adalah bagian pertama dari ampunan dan maaf Allah kepada hamba. Sabda Rasulullah saw.,
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَةُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
“Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat.” (Abdurrazzaq dan Ahmad dari hadits Abu Hurairah).
Menutup aurat dan aib artinya semua aib baik yang bersifat fisik maupun non-fisik. Misalnya seseorang memiliki keburukan dan cacat di badannya maka tidak ditunjukkan dan diceritakan kepada orang lain. Atau seseorang melakukan kesalahan lalu disimpan kesalahan itu dan tidak dibeberkan kepada orang lain. Bahkan ketika seseorang sudah meninggal sekalipun, perlu disembunyikan aurat dan cacatnya. Seperti sabda Rasulullah saw.,
مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أرْبَعِينَ مَرَّةً
“Barang siapa memandikan mayit lalu ia sembunyikan (aibnya) Allah akan mengampuninya selama empat puluh kali.” (Baihaqi dan Thabrani)
Akibat membongkar dan menyebarkan air orang-orang beriman.
Sebaliknya, membongkar dan memamerkan aib orang lain adalah dosa. Khususnya jika hal itu dilakukan orang karena kealpaannya dan bukan termasuk orang yang suka memamerkan kemaksiatan. Terlebih lagi jika ia dikenal sebagai orang yang taat beribadah dan baik agamanya juga tidak dikenal sebagai ahli maksiat. Maka mencacinya adalah mencaci agama. Membeberkan kesalahannya adalah menodai agama. Lalu Allah akan menghukum orang yang suka memamerkan bahkan mencari-cari kesalahan orang lain. Baik di dunia maupun akhirat. Di dunia, kesalahan dan aibnya akan dipertujukkan Allah kepada manusia. Seorang salafus-shalih berkata,
“Aku mendapati suatu kaum yang tidak punya aib sama sekali. Lalu mereka menyebut-nyebut aib orang lain maka orang lain itupun menyebut-nyebut aib dan kesalahan mereka. Aku juga mendapati kaum lain yang memiliki banyak aib dan kesalahan, lalu mereka suka menutupi aib orang-orang lain maka aib mereka pun dilupakan orang.”
Sebab tidak ada orang di dunia ini yang tanpa aib dan kesalahan. Saat seseorang mencari-cari bahkan membongkar kesalahan orang lain, orang akan mencari dan membongkar kesalahannya. Dan tentu kondisi ini menjadi preseden buruk bagi sebuah jamaah atau masyarakat. Saat masing-masing anggotanya berusaha membongkar kesalahan dan aib orang lain, maka masing-masing akan membongkar aib dan kesalahan yang lain. Maka tidak ada lagi rahasia. Masing-masing dari anggota saling menghujat dan menyalahkan.
Sebagai konsekuensinya berbagai perilaku dan sikap negative pun bermunculan dalam jamaah dan masyarakat; suuzhan, tajassus, ghibah, najwa, bahkan adu domba sampai kepada fitnah demi memuaskan hati dengan melihat lawannya tersakiti. Maka rusaklah sendi-sendi jamaah dan masyarakat karena perilaku negatif ini. Seiring dengan itu hilang pula kepercayaan satu sama lain. Satu sama lain saling mencurigai dan saling menzhalimi.
Kondisi semacam ini yang diwanti-wanti oleh Allah dan pelakunya diancam dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebar keburukan di antara orang-orang yang beriman bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Allah Mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.” (An-Nur: 19)
Seharusnya seseorang menutupi aurat dan aib saudaranya sebagaimana ia suka jika aib dan auratnya ditutupi. Orang yang suka membuka dan membicarakan aurat serta aib orang lain, tidak perlu didengar apatah lagi ditanggapi.
Seorang wanita datang menemui Ummul Mukminin, Aisyah ra., bahwa seorang laki-laki mencoba membuka auratnya saat wanita itu umrah. Aisyah pun memboikotnya dan berpaling darinya seraya berkata, “Hai wanita-wanita beriman, jika salah satu di antara kalian melakukan dosa, hendaknya tidak menyampaikannya kepada orang lain. Hendaknya meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadanya. Karena manusia itu hanya bisa melecehkan dan tidak merubah. Sedangkan Allah bisa merubah dan tidak melecehkan.”
Jadi, jadikan dirimu sebagai kuburan seluruh aib saudaramu. Kubur dalam-dalam semua kesalahannya agar tidak pernah muncul lagi. Ya, sedalam-dalamnya, selama-lamanya.